Kamis, 22 November 2012

Jaleuleuja! Hayu urang ulin

Jaleuleu Ja! Hayu Urang Ulin!P
Oleh Kimung
Senja. Langit bersih dan cerah. Terlihat
para petani bersiap pulang. Sementara itu, di
tengah pematang yang mengering membentuk
tegalan terdengar sorak-sorai dan tawa anak-anak
sedang bermain. Sesekali terdengar nyanyian
mengiringi permainan mereka.
Di antara keramaian, terlihat sekitar 10
anak bersiap-siap bermain Oray-orayan
(Indonesia: Ular-ularan). Mereka baris ke
belakang. Tangan memegang bahu atau pinggang
teman di depannya. Anak yang paling tinggi berada
di posisi terdepan, berperan sebagai kepala ular.
Yang berperan sebagai ekor dipilih anak terkecil
tetapi paling gesit. Sang kepala ular harus
menangkap ekor ular. Ekor sedapat mungkin harus
menghindari tangkapan kepala ular.
Barisan bergerak meliuk-liuk seperti
gerakan ular sambil bernyanyi riang:
Oray-orayan luar leor mapay sawah –
Entong ka sawah parena keur sedang beukah –
Mending ge teuleum di leuwi loba nu mandi – Saha
nu mandi, anu mandina pandeuri.
Setiap nyanyian usai, kepala ular berusaha
menangkap ekor sambil mengeluarkan bunyi kok…
kok…kok… Sementara itu, badan ular berlari-lari
kecil menurutkan ke mana kepala ular mengejar
sang ekor.
Ada kalanya badan ular terputus. Riuhlah
anak-anak tertawa-tawa dan kembali menyusun
barisan untuk memulai kembali permainan. Bila
sang ekor tertangkap, ia harus keluar dari barisan.
Makin lama permainan berlangsung, badan ularpun
semakin pendek. Saat badan ular tinggal tiga atau
lima orang, anak-anak kembali mengulang
permainannya dari awal
Di sisi lain, terlihat lima anak bermain
Anyam-anyaman . Mereka membentuk lingkaran,
posisi tubuh saling membelakangi, tangan saling
berpegangan, dan saling mengaitkan sebelah kaki.
Sambil bergerak berputar-putar mereka
menyanyikan syair :
“Pakait-kait suku – Bitisna patumpang-
tumpang – Anyaman masing pageuh – Tacan lesot
ulah reureuh – Pakait-kait suku – Bitisna
patumpang-tumpang – Anyaman masing kuat –
Tacan lesot ulah lumpat – Pakait-kait suku –
Bitisna patumpang-tumpang – Nganyamna ulah
rusuh – Mun rusuh sok gampang labuh”
Sebagian anak-anak yang lainnya saling
bekejaran dan bersorak-sorai gembira
menyanyikan syair: Jaleuleu ja – tulak tuja eman
gog – seureuh leuweung bay – ucing katunggang
songsong ngek. Mereka berlari-lari saling
berkejaran. Tertawa-tawa bahagia.
***
Permainan anak desa (kaulinan urang
lembur ) tersebar hampir di seluruh pedesaan di
Jawa Barat sebagai bentuk kebudayaan rakyat.
Setiap permainan, selalu diiringi nyanyian
( kakawihan barudak ) yang berbeda-beda.
Nyanyian tersebut digemari anak-anak karena
syairnya yang lucu, sederhana, dan gembira. Lebih
dari itu, lagu-lagu memuat pesan nilai-nilai luhur
kebudayaan rakyat tradisional.
Dalam lagu Oray-orayan , misalnya, dapat
ditemukan pesan untuk senantiasa bergotong
royong dan bahu membahu. Pesan itu juga terlihat
dari permainan, terutama dari bentuk barisan.
Setiap anak dituntut untuk mempertahankan dirinya
agar dapat menjaga keharmonisan barisan, tidak
terlepas dan menceraiberaikan barisan. Permainan
ini mendidik ketangkasan, dan tanggung jawab
memainkan peran.
Pesan-pesan di atas juga tercermin dalam
Anyam-anyaman . Simbol saling kait mengait betis
mengandung pesan menjaga persaudaraan, tidak
bercerai-berai, dan tidak melepaskan diri dari
tanggung jawab individu dalam masyarakat. Lagu
Anyam-anyaman juga mengandung nasihat agar
selalu hati-hati dan teratur dalam mengerjakan
segala sesuatu. Selain itu, irama lagu ini juga enak
dinyanyikan. Pola iramanya yang ceria melatih
semangat dan membangkitkan ekspresi gembira
anak-anak.
Lain Oray-orayan dan Anyam-anyaman ,
lain pula Jaleuleu Ja. Lagu ini mempunyai latar
belakang sejarah. Diperkirakan muncul pada
zaman revolusi, diciptakan sebagai kode rahasia
dalam menyampaikan berita tentang perang. Sang
pembawa berita menyanyikan lagu dengan lantang
di atas pohon dengan maksud agar berita rahasia
itu akan terdengar oleh pejuang-pejuang yang lain.
Pejuang yang mendengar meneruskan nyanyian
tersebut bersahut-sahutan.
Dalam permainan anak-anak, Jaleu-eu Ja
adalah panggilan bagi anak-anak agar berkumpul
untuk melakukan permainan. Anak yang
menyanyikan lagu ini akan ditimpal oleh anak lain
yang mendengar. Nyanyian pun akan dilantunkan
bersahut-sahutan mengesankan suasana yang
ramai dan gembira. Bila dikaji lebih jauh, lagu
tersebut mengandung pesan-pesan luhur seperti
kebersamaan, gotong-royong, mencita-citakan
dunia yang bersatu, dan menumbuhkan kecintaan
terhadap hewan dan tumbuhan (alam).
***
Masih banyak jenis kaulinan serta kawih
lainnya di Jawa Barat. Sebagai suatu kebudayaan
rakyat, selain berperan sebagai alat rekreasi,
kaulinan dan kawih berperan sebagai alat
pedagogik yang mendidik anak-anak untuk berjiwa
sportif dan menyiapkan mereka agar selalu siap
berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat
kelak.
Sayang, perkembangan teknologi
informasi dan semakin menghilangnya lahan-lahan
bermain anak-anak perlahan telah mengikis
(hampir) habis kebudayaan rakyat itu. Jarang
sekali masa kini ditemukan anak-anak memainkan
permainan rakyat di lapangan-lapangan atau di
tempat-tempat permainan lainnya. Mereka
mungkin lebih enjoy bermain Play Station , video
game, atau alat-alat permainan lainnya yang
berbau teknologi dan sangat mengurangi nilai
utama dalam permainan, yaitu interaksi dan
sosialisasi.
Semakin merosotnya peran seni
permainan ini dikhawatirkan akan menciptakan
suatu kondisi erosi budaya, di mana nilai-nilai
tradisi rakyat akan semakin mengalami degradasi
dan kepunahan. Pada gilirannya, kekhawatiran itu
akan berpengaruh besar pada perubahan cara
berpikir, pandangan hidup atau cara bertindak
generasi sekarang ke sisi individual yang sama
sekali tidak mencerminkan nilai utama kerakyatan,
suatu tempat akar rumput di mana mereka lahir,
tumbuh, dan berkembang. Atau inikah salah satu
sebab kenapa fisik, psikis, dan toleransi anak-
anak kota cenderung lebih jongkok daripada anak-
anak kampong? Kim#5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar