Minggu, 26 Mei 2013

Itiraf


I'TIRAF (PENGAKUAN)

*اِلهَِيْ لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاََ * وَلاَ أَقْوَى عَلَى نَارِ الْجَحِيْمِ*

*فَهَبْ لِيْ تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبِيْ * فَإِنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ الْعَظِيْمِ*

*ذُنُوْبِيْ مِثْلُ أَعْدَادِ الرِّمَالِ * فَهَبْ لِيْ تَوْبَةً يَا ذَا الْجَلاَلِ*

*وَعُمْرِيْ نَاقِصٌ فِيْ كُلِّ يَوْمٍ * وَذَنْبِيْ زَآئِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِىْ*

*اِلهَِيْ عَبْدُكَ الْعَاصِي أَتَاكَ * مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ*

*فَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَاكَ أَهْلُ * وَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُوْ سِوَاكَ*

TRANSKRIP

Ilaahi Lastu Lil Firdausi Ahla – Walaa Aqwa ‘Ala Naaril Jahimi

Fahabli Taubataw Wahgfir Dzunuubiy – Fa Innaka Ghafirudz Dzanbil ‘Adlimi

Dzunuubiy Mitslu A’daadir Rimaali – Fa Habli Taubatay Ya Dzal Jalali

Wa ‘Umri Naqishun Fi Kulli Yaumin – Wa Dzanbi Zaaidun Kaifah Timali

Ilaahi ‘Abdukal ‘Ashi Ataaka – Muqirran Bidz Dzunubi Wa Qad Da’aaka

Fa In Taghfir Fa Anta Lizaka Ahlu – Wa In Tathrud Fa Man Narju Siwaaka

TERJEMAHAN (INDONESIA)

Ya Tuhanku Ku Tak Layak Ke-Surga-Mu

Tak Sanggup Pula Menahan Siksa Di-Neraka-Mu

Berikan Aku Jalan Taubat Ampun Dosaku

Sesungguhnya Engkaulah Pengampun Engkau Yang Agung

Dosa-Dosaku Bagaikan Banyak Pasir Dipantai

Berikan Aku Jalan Menuju Taubat Pada-Mu

Usiaku Berkurang Slalu Setiap Hari

Namun Dosaku Bertambah Slalu, Bagaimana Ini?

Ya Tuhanku Hamba Berdosa Datang Pada-Mu

Mengaku Dosa, Memohon Serta Keampunan-Mu

Jika Kau Ampun Memanglah Engkau Maha Pengampun

Jika Kau Menolak Kemana Lagi Kami Berharap?

MANFAAT SURAT AL-WAQIAH

BACAAN SURAT AL WAQIAH:
Bismillaahirrahmaanirrahiim
[1:1] Dengan menyebut nama
Allah Yang Maha Pemurah lagi
Maha Penyayang.
[1:1] In the name of Allah, the
Beneficent, the Merciful.
Surah Al Waqi'ah
idzaa waqa’ati lwaaqi’at
[56:1] Apabila terjadi hari
kiamat,
[56:1] When the great event
comes to pass,
Al Waqi'ah
laysa liwaq’atihaa kaadziba
[56:2] tidak seorangpun dapat
berdusta tentang kejadiannya.
[56:2] There is no belying its
coming to pass –
Surat Al Waqiyah
khaafidhatun raafi’a
[56:3] (Kejadian itu)
merendahkan (satu golongan)
dan meninggikan (golongan yang
lain),
[56:3] Abasing (one party),
exalting (the other),
Surat Al Waqi'ah
idzaa rujjati l-ardhu rajjaa
[56:4] apabila bumi digoncangkan
sedahsyat-dahsyatnya,
[56:4] When the earth shall be
shaken with a (severe) shaking,
wabussati ljibaalu bassaa
[56:5] dan gunung-gunung
dihancur luluhkan seluluh-
luluhnya,
[56:5] And the mountains shall
be made to crumble with (an
awful) crumbling,
fakaanat habaa-an
munbatstsaa
[56:6] maka jadilah ia debu yang
beterbangan,
[56:6] So that they shall be as
scattered dust.
wakuntum azwaajan tsalaatsa
[56:7] dan kamu menjadi tiga
golongan.
[56:7] And you shall be three
sorts.
fa-ash-haabu lmaymanati maa
ash-haabu lmaymanat
[56:8] Yaitu golongan kanan.
Alangkah mulianya golongan
kanan itu.
[56:8] Then (as to) the
companions of the right hand;
how happy are the companions
of the right hand!
wa-ash-haabu lmasy-amati maa
ash-haabu lmasy-amat
[56:9] Dan golongan kiri.
Alangkah sengsaranya golongan
kiri itu.
[56:9] And (as to) the
companions of the left hand;
how wretched are the
companions of the left hand!
wassaabiquuna ssaabiquun
[56:10] Dan orang-orang yang
beriman paling dahulu,
[56:10] And the foremost are
the foremost,
ulaa-ika lmuqarrabuun
[56:11] Mereka itulah yang
didekatkan kepada Allah.
[56:11] These are they who are
drawn nigh (to Allah),
fii jannaati nna’iim
[56:12] Berada dalam jannah
kenikmatan.
[56:12] In the gardens of bliss.
tsullatun mina l-awwaliin
[56:13] Segolongan besar dari
orang-orang yang terdahulu,
[56:13] A numerous company
from among the first,
waqaliilun mina l-aakhiriinaa
[56:14] dan segolongan kecil
dari orang-orang yang kemudian
[56:14] And a few from among
the latter.
‘alaa sururin mawdhuuna
[56:15] Mereka berada di atas
dipan yang bertahta emas dan
permata,
[56:15] On thrones decorated,
muttaki-iina ‘alayhaa
mutaqaabiliin
[56:16] seraya bertelekan di
atasnya berhadap-hadapan.
[56:16] Reclining on them,
facing one another.
yathuufu ‘alayhim wildaanun
mukhalladuun
[56:17] Mereka dikelilingi oleh
anak-anak muda yang tetap
muda,
[56:17] Round about them shall
go youths never altering in age,
bi-akwaabin wa-abaariiqa waka/
sin min ma’iin
[56:18] dengan membawa gelas,
cerek dan minuman yang diambil
dari air yang mengalir,
[56:18] With goblets and ewers
and a cup of pure drink;
laa yushadda’uuna ‘anhaa walaa
yunzifuun
[56:19] mereka tidak pening
karenanya dan tidak pula mabuk,
[56:19] They shall not be
affected with headache
thereby, nor shall they get
exhausted,
wafaakihatin mimmaa
yatakhayyaruun
[56:20] dan buah-buahan dari
apa yang mereka pilih,
[56:20] And fruits such as
they choose,
walahmi thayrin mimmaa
yasytahuun
[56:21] dan daging burung dari
apa yang mereka inginkan.
[56:21] And the flesh of fowl
such as they desire.
wahuurun ‘iin
[56:22] Dan ada bidadari-
bidadari bermata jeli,
[56:22] And pure, beautiful
ones,
ka-amtsaalillu/lui lmaknuun
[56:23] laksana mutiara yang
tersimpan baik.
[56:23] The like of the hidden
pearls:
jazaa-an bimaa kaanuu ya’maluun
[56:24] Sebagai balasan bagi
apa yang telah mereka kerjakan.
[56:24] A reward for what they
used to do.
laa yasma’uuna fiihaa laghwan
walaa ta/tsiimaa
[56:25] Mereka tidak mendengar
di dalamnya perkataan yang sia-
sia dan tidak pula perkataan
yang menimbulkan dosa,
[56:25] They shall not hear
therein vain or sinful discourse,
illaa qiilan salaaman salaamaa
[56:26] akan tetapi mereka
mendengar ucapan salam.
[56:26] Except the word peace,
peace.
wa-ash-haabu lyamiini maa ash-
haabu lyamiin
[56:27] Dan golongan kanan,
alangkah bagianya golongan
kanan itu.
[56:27] And the companions of
the right hand; how happy are
the companions of the right
hand!
fii sidrin makhdhuud
[56:28] Berada di antara pohon
bidara yang tak berduri,
[56:28] Amid thornless lote-
trees,
wathalhin mandhuud
[56:29] dan pohon pisang yang
bersusun-susun (buahnya),
[56:29] And banana-trees (with
fruits), one above another.
wazhillin mamduud
[56:30] dan naungan yang
terbentang luas,
[56:30] And extended shade,
wamaa-in maskuub
[56:31] dan air yang tercurah,
[56:31] And water flowing
constantly,
wafaakihatin katsi.
salah satu yang dikenal sebagai
surat yang memiliki rahasia
dahsyat dan penuh berkah.
Jadi pasti karna dia tidak tahu
keberkahan mengamalkan surat al waqiah
Perlu di ketahui bukan rahasia
umum bahwa Khasiat dan
keberkahannya mampu
menghilangkan kemiskinan dan
mendatangkan rejeki bagi siapa
saja yang membacanya dan
mengamalkannya dengan rutin
setiap hari di sore hari ..
dalam sebuah riwayat yang di
sabdakan oleh Rasulullah SAW :
"Barangsiapa membaca Surah Al-
Waqiah setiap malam, maka
takkan menimpa padanya
kemiskinan (kemiskinan)
HR. Al-Baihaqi.
Surat Al-Waqi'ah adalah surat
kekayaan lahir maupun batin,
maka bacalah surat itu dan
ajarkan kepada anak-anak dan
istri kalian.
dalam sebuah hikmah dan hadits,
"Ajarkanlah istri kalian Surat Al-
Waqi'ah , karena sesungguhnya
surat itu adalah surat kekayaan
".
Dengan melihat posisi surat Al-
Waqiah yang sedemikian besar
khasiatnya untuk mendatangkan
rejeki bagi kita,
marilah mulai sekarang
membacanya secara rutin setiap
hari atau setiap malam. Karena
memang surat itu penuh berkah
dan mengundang kekayaan serta
mengusir kemiskinan bagi siapa
saja yang mau secara rutin
membacanya.
QS Al Waqi,ah adalah Surat
yang ke -56 di Al-Quran
ini terletak
pada juz ke 27 dan terdiri dari 96
ayat.
Dinamakan Al-Waqi’ah karena
diambil dari kata Al-Waqi’ah yang
terdapat
pada ayat pertama surat ini,
yang artinya kiamat.
Surah Al-Waqi’ah ini
menerangkan tentang hari
kiamat,
balasan yang diterima oleh
orang-orang mukmin dan orang-
orang kafir. Diterangkan pula
penciptaan manusia, tumbuh-
tumbuhan, dan api, sebagai bukti
kekuasaan Allah dan adanya hari
berbangkit.
Muhammad Rasulullah SAW
bersabda :
(1). “Siapa membaca surat Al-
Waqi’ah setiap hari,
ia tidak akan ditimpa kefakiran.”
(2) “Siapa membaca surat Al-
Waqi’ah setiap malam, dia tidak
akan ditimpa kesusahan atau
kemiskinan selama-lamanya.
(Diriwayatkan oleh Baihaqi dari
Ibnu Mas’ud r.a.),
(3). “Ajarkanlah surat Al-
Waqi’ah kepada isteri-isterimu.
Karena sesungguhnya ia adalah
surah Kekayaan.”
(Hadis riwayat Ibnu Ady),
(4). “Barang siapa yang
membaca surat Al-Waqi’ah setiap
malam maka dia tidak akan
tertimpa kefakiran dan
kemiskinan selamanya.
Surat Al-Waqi’ah adalah surah
kekayaan, maka bacalah ia dan
ajarkan kepada anak-anakmu
semua.”
MANFAAT WIRID AL WAQI’AH :
1. Barangsiapa membaca surat
Al-Waqi’ah pada setiap hari
dan malam sebanyak 40 kali,
selama 40 hari pula, maka Allah
rezekinya mengalir terus dari
berbagai penjuru.
2.  Berpuasa selama seminggu
dimulai pada hari Jumaat.
Setiap selesai sholat fardhu
bacalah Surat Al-Waqi’ah ini
sebanyak 25 kali hingga sampai
malam Jumaat berikutnya.
Pada malam Jumaat berikutnya,
selepas sholat Maghrib bacalah
surah ini sebanyak 25 kali,
selepas sholat Isya’ bacalah
surah ini 125 kali di ikuti dengan
sholawat Nabi 1000 kali.
Setelah selesai amalan,
hendaklah memperbanyakkan
sedekah.
Kemudian jadikan surah ini amalan
rutin pada waktu pagi dan
petang. Insya’Allah rezeki akan
mengalir seperti air bah.
3. Berpuasa selama 7 hari, di
mulai pada hari Jumat berakhir
pada hari Kamis. Puasanya “tidak
memakan sesuatu yang
bernyawa / tidak makan ikan,
daging, segala heiwan, hanya
makan sayur-sayuran saja.
Dalam 7 hari itu, sesudah solat
fardhu, membaca surat Al-
Waqi’ah
sebanyak 25 kali.
Apabila bacaan tersebut di mulai
setelah sholat fardhu Subuh
pada hari Jumaat pertama, maka
diakhirilah pembacaan Al-Waqi’ah
itu pada setelah fardhu Isya’
pada Jumaat berikutnya.
Pada malam Jumat terakhir ini
hendaklah membaca surah Al-
Waqi’ah
sebanyak 125 kali kemudian
shlawat 1000 kali.
Insya’Allah tidak akan
mengalami kemiskinan seumur
hidup.
4. Bila orang membiasakan
membaca surat ini setiap malam
satu kali, maka dia dijauhkan dari
kemiskinan.
Bila di baca 14 kali setiap selesai
solat Asar, maka akan
memperoleh kekayaan yang
berlimpah ruah.
Jika di baca surah ini sebanyak
41 kali segala hajat yang
berkaitan dengan rezeki akan
terkabul.

5. Surat ini jika dibaca di sisi orang yang sedang sekaratul maut, insyaAllah akan mempermudah roh keluar dari jasadnya. Jika dibaca di sisi orang sakit, diringankan sakitnya. Jika di tulis, kemudian dipakaikan kepada orang yang hendak bersalin, InsyaAllah segera melahirkan dengan mudah.

6. Jika membaca surat ini sebanyak 3 kali selepas solat subuh dan 3 kali selepas sholat Isya’. Insya Allah dalam waktu setahun ia akan di jadikan seorang hartawan yang dermawan.

Senin, 13 Mei 2013

I'tiraf

Pasti pernah dengan lagu I’tiraf yang di nyanyi’in Raihan kan ? Tau nggak, bahwa itu sebenarnya do’a yang di lantunkan oleh seorang hamba ALLAH yang bernama ABU NAWAS. Sosok lugu, agak pandir dan sering kita anggap sosok konyol yang tingkah dan ucapannya mengundang tawa…
Gini nih ceritanya sampai doa itu terlantunkan…

Alkisah, seorang laki – laki setengah baya sedang duduk sendirian, memperhatikan matahari yang berangsur – angsur tenggelam. Suasananya cukup hening. Ia melihat begitu indahnya warna langit yang di penuhi dengan mega berwarna kuning jingga. Ia memperhatikannya dengan seksama, hingga akhirnya suasana indah itu hilang seiring dengan tenggelamnya matahari di ufuk barat. Entah apa penyebabnya, tiba – tiba ia tak mampu membendung air matanya. Hatinya terasa pedih. Ia menangis tersedu – sedu. Ia menengadahkan kedua tangannya sambil berkata :

” Ilahi lastu lil firdausi ahlan
Walaa aqwaa ‘alannaril jahiimii
fahabli taubatan waghfir dzunuubi
fainnaka ghafirudzdzambil ‘adzhiimii
dzunuubi mitslu a’daadir rimali
fahablii taubatan yaa dzal jalaali
wa ‘umrii naaqishun fii kulliyaumi
wa dzambii zaa idun kaifahtimali
ilahi ‘abdukal ‘aashi ataaka
muqirran bi dzunubi waqad da’aaka
fa in taghfir faanta lidzaka ahlun
wa in tadrud faman narjuu siwaakaa “

Terjemahannya kurang lebih demikian :
” Ya Tuhanku, aku tidaklah pantas menjadi ahli syurga firdausMu
Namun aku juga tak kan sanggup masuk ke neraka jahimMU.
Oleh karena itu, terimalah taubatku dan tutupilah dosa – dosaku.
Sesungguhnya Engkau maha mengampuni dosa – dosa besar.
Dosa – dosa ku seperti hamparan pasir di laut, maka terimalah taubatku wahai Dzat yang Maha Agung…
Umurku terus berkurang setiap hari, namun dosa – dosaku bertambah setiap hari…
Bagaimana aku mampu menanggungnya ?
Ya Tuhanku, hambaMu yang berlumur dosa ini datang kepadaMU
Sesungguhnya aku benar – benar berdosa kepadaMU
Dan bila Engkau tidak mengampuni aku, kepada siapa lagi aku berharap selain Engkau ?”

Abu Nawas, sosok yang dikenal sosok lugu, agak pandir dan sering kita anggap sosok konyol yang tingkah dan ucapannya mengundang tawa, sebenarnya adalah orang yang baik dan sangat jujur. Kalimat – kalimat diatas adalah bentuk pengakuan dirinya atas semua dosa – dosa yang telah ia perbuat. Ketika Ia menyadari usianya yang semakin senja, tentu saja kepastian untuk segera kembali menghadap ALLAH itu pun akan segera datang.

Ia menangis ketika menyaksikan matahari tenggelam, karena ia menyadari bahwa orang hidup di dunia ini dapat di ibaratkan seperti itu. Namun jarang sekali kita mau merenungkan tanda – tanda kebesaran ALLAH swt. Dan mengambil pelajaran dari peristiwa demi peristiwa dalam hidup kita.
Ketika matahari akan tenggelam sering kali membawa suasana menyenangkan dan warna langit menjadi sangat indah. Sampai – sampai banyak orang yang terlena oleh keindahannya. Sementara mereka tidak menyadari bahwa sebentar lagi matahari akan tenggelam dan kegelapan malampun akan segera menyelimutinya. Kecuali orang yang sadar dan telah menyiapkan diri dengan membawa lentera untuk menerangi ketika malam tiba.

Rasulullah saw menangis hingga berguncang dadanya dan jenggotnya basah oleh air mata ketika menerima wahyu yang berbunyi : ” Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda – tanda (kebesaran ALLAH) bagi orang – orang yang berakal. Yaitu orang – orang yang mengingat ALLAH sambil berdiri atau duduk ataupun berbaring, dan mereka yang merenungkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata : ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini semua dengan sia – sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka.’ ” (QS. Ali – Imran : 190 – 191)

Ketika Bilal bin Rabbah, muadzin kesayangan Rasulullah datang menegur, ” Mengapa engkau menangis wahai Rasulullah ? Padahal ALLAH telah mengampuni dosa – dosamu yang lalu dan yang akan datang ?”
Rasulullah pun menjawab, ” Bukankah aku belum menjadi hamba yang bersyukur ? Aku menangis karena tadi malam telah turun wahyu kepadaku yang bunyinya : ‘Celakalah orang – orang yang membaca ayat ini kemudian tidak mau merenungkannya.’ “
Saat ini, Rasulullah dan Abu Nawas sama – sama sudah tiada, namun kita harus merenungkan semua ini. Sudahkah kita menjadi hamba yang bersyukur dan menyadari keberadaan kita di dunia ini dan kewajiban kita padaNYA.

Seperti yang di katakan oleh Rasulullah bahwa hidup di dunia ini hanya persinggahan saja untuk menuju ke tujuan utama kita yaitu akhirat. Namun sudah cukupkan bekal kita untuk melakukan perjalanan tersebut ? Perjalanan akhirat menuju kehidupan yang sebenarnya, yang kekal dan abadi ?
Wallahualam bi shawab….

Semoga kita selalu dapat mengambil pelajaran dari setiap peristiwa…

Kamis, 28 Maret 2013

Ema

Ema Ukur du'a
Ema ukur cimata
Ema ukur tumarima
Ema pangjajap kanggo salira

Ukur kacinta ngahias amparan rasa
Kadeudeuh anu Katampi Lir mega nyimbutan rasa

Ya Allah anu welas anu asih mugia sing di bukakeun surga
Rumasa abdi baheula Ka ema Teu weleh baha dugi Ka pinuh kudosa dosa...

Ya Allah anu welas anu asih mugia di bukakeun surga
Abdi pangampura Sagala dosana ema
Caangkeun di alam baka caangkeun...


Selasa, 26 Maret 2013

Naha geuning Ema teh umurna Teu Lila

Kahirupan dieusi kurupa -rupa rasa ,rasa sedih,rasa bungah
nu datang silih gantian bari jeung teu nyaho datangna , teu nyaho ingkahna
poe ieu kuring sedih....duka isuk pageto mah
sedih teh dumeh enggal keneh dikantun ku pun Ema
hadena masih aya dulur jeung baraya nu silih upahan sangkan ulah sedih katutuluyan
jeungna deui salaku muslim teu diwenangkeun ku agama ngalulungkut kabingung jeung kasedih terus-terusan ...sok inget ka hiji lagu sunda ,mun seug di gerenteskeun danget ayeuna matak ngageri ati rambay cisoca.....
Aya mangsana datang
aya mangsana mulang
mulang jeung datang pinasti kasorang
najan hate pinuh ku kabeurat
ngagalindeng ngaturkeun wilujeung angkat
pileuleuyan.....pileuleuyan mugia patepang deui.........
Ema.........pileuleuyan wilujeng angkat
mugia anjeun aya dina karidhoan ALLAH Ta'ala
Amien...ya robal alamin

ti kuring nu keur tunggara
26 Maret 2013



Rabu, 30 Januari 2013

Nambih wawasan aslina makam prabu geusan ulun


Padahal, Raja Sumedanglarang Itu Makamnya Ada
di Sumedang
Prabu Geusan Ulun Dimakamkan di
Garut?
BILA kita berkunjung ke objek wisata
Sayangheulang Garut selatan, tepat di ujung barat
pantai terdapat bukit kecil. Di puncak bukit itu
terdapat sebuah makam keramat yang oleh
penduduk sekitar diakui sebagai makam Prabu
Geusan Ulun. Keberadaan makam tersebut agak
mengherankan. Seperti diketahui, Prabu Geusan
Ulun adalah Raja Sumedanglarang dan di wilayah
Sumedang pun terdapat makamnya. Mungkin juga
akan mengundang pertanyaan, apakah Prabu
Geusan Ulun yang dimakamkan di Sayangheulang
ini adalah tokoh yang sama dengan Prabu Geusan
Ulun Raja Sumedanglarang?
Sebenarnya, masyarakat sekitar pun tidak
mengetahui dengan pasti mengenai hal ini.
Sejauh yang mereka tahu, Prabu Geusan
Ulun yang dimakamkan di Sayangheulang
adalah seorang tokoh dan penyebar agama
Islam. Seperti yang diutarakan oleh Umen
Herdiana, KCD Pariwisata Wilayah
Pameungpeuk, berdasarkan cerita rakyat
sekitar, Prabu Geusan Ulun adalah seorang
raja dan tokoh penyebar Islam yang punya
sebuah perguruan Islam di Gunung Nagara
Depok.
Saat menjelang wafat, tokoh yang juga
dikenal sebagai Eyang Geusan Ulun ini
berwasiat kepada murid-muridnya, bila
wafat, ia ingin dikuburkan di suatu tempat, di mana
parukuyan (batok kelapa yang berisi bara api) yang
ia hanyutkan di Sungai Cipalebuh berhenti.
Parukuyan itu pertama kali dihanyutkan di Gunung
Nagara di wilayah Bantarpeundeuy Depok. Setelah
lama hanyut dengan diikuti oleh murid-murid
Eyang Geusan Ulun, parukuyan tersebut” berhenti
di muara Sungai Cipalebuh, tepat di kaki bukit kecil
di Sayangheulang. Akhirnya, setelah wafat, jenazah
Eyang Geusan Ulun dimakamkan di puncak bukit
itu oleh murid-muridnya.
Setelah jenazah dimakamkan, parukuyan tersebut
kemudian hanyut kembali dan berhenti di sebuah
karang besar di tepi pantai Santo. Karang itu lalu
diberi nama Karang Kukusan, yang hingga saat ini
masih ada.
Keterangan yang berbeda justru diungkapkan oleh
kuncen makam Prabu Geusan Ulun, Yayat
Supriyatna bin Udin. Saat ditemui “PR” beberapa
waktu lalu, Yayat mengaku tidak mengetahui
bagaimana sejarahnya Prabu Geusan Ulun bisa
dimakamkan di Sayangheulang. Namun, ia
menawarkan kepada “PR” agar berbicara langsung
dengan arwah Prabu Geusan Ulun yang bisa ia
panggil untuk “nyurup” ke dalam dirinya.
Setelah melakukan prosesi ritual di dekat makam
Prabu Geusan Ulun, Yayat langsung kesurupan.
Yang bersangkutan mengucapkan salam dan
kemudian terdiam untuk beberapa saat dengan
mata terpejam dan urat leher terlihat tegang. Pada
kesempatan itu, “PR” bertanya bagaimana
sejarahnya Prabu Geusan Ulun bisa dimakamkan di
Sayangheulang.
“Sang prabu” bertutur, ia sebenarnya berasal dari
wilayah Panjalu. Ia terpaksa meninggalkan wilayah
Panjalu karena lama kelamaan masyarakat di
Panjalu sudah semakin meninggalkan ajaran Islam.
Pergilah ia ke suatu tempat untuk menyepi dan
lokasi Sayangheulanglah yang kemudian ia pilih
untuk menetap selama 10 tahun hingga akhir
hayatnya. Ia juga merunut beberapa kuncen yang
pernah menjaga makamnya. Pertama adalah Eyang
Jagawana, yang juga masih keturunannya.
Dilanjutkan oleh Mama Emen, Lurah
Kardiwijayakusumah, Irob, dan terakhir Yayat
Supriyatna bin Udin, yang saat itu dijadikan
sebagai media bagi arwah sang prabu untuk
berbicara. Menurut pengakuan “arwah” Eyang
Geusan Ulun, saat ini sudah menginjak tahun
ke-470 ia bersemayam di Sayangheulang.
Tidak ada catatan
Sementara itu, menurut pakar sejarah, yang juga
pendiri Yayasan Pendidikan Gilang Kencana Garut,
Sulaeman Anggapradja, nama Geusan Ulun di
Sayangheulang tidak ada dalam catatan sejarah.
Menurutnya, selama meneliti dan mengumpulkan
dokumen sejarah tentang wilayah Garut dan
sekitarnya, tidak pernah terdengar nama Geusan
Ulun yang dimakamkan di Sayangheulang. Saat
melihat foto lokasi makam Geusan Ulun, Sulaeman
berpendapat, besar kemungkinan makam tersebut
merupakan bangunan baru dan tokohnya pun
kemungkinan bukan tokoh yang berperan di dalam
sejarah. “Mungkin hanya tokoh masyarakat
setempat saja yang dihormati dan makamnya
kemudian dikeramatkan,” ujar Sulaeman.
Lebih lanjut Sulaeman menjelaskan nama Geusan
Ulun adalah sebuah gelar bagi seorang tokoh atau
pimpinan yang dihormati rakyatnya. Menurutnya,
Geusan Ulun di Sayangheulang jelas bukan Geusan
Ulun raja Sumedanglarang karena Prabu Geusan
Ulun dari Sumedang jelas catatan sejarah dan
keberadaan makamnya. Hal tersebut diperkuat oleh
pengalaman Sulaeman, yang beberapa kali
menemukan dalam catatan sejarah nama Geusan
Ulun di tempat yang berbeda-beda. Ditegaskannya,
Geusan Ulun di Sayangheulang besar kemungkinan
hanya tokoh yang dibuat-buat saja. “Karena
penamaan Geusan Ulun tidak diberikan kepada
sembarang orang. Hanya orang-orang besar saja
yang diberi gelar itu. Kalau Geusan Ulun di
Sayangheulang memang tokoh besar, tentunya
akan tercatat di dalam catatan sejarah, tetapi
selama ini kan tidak ada,” tegasnya.
Terlepas dari ada atau tidak adanya Geusan Ulun
dari Sayangheulang, kenyataannya saat ini makam
tersebut dikeramatkan dan banyak diziarahi
masyarakat. Makam tersebut berpotensi dijadikan
aset wisata, namun tentu saja kebenaran sejarah
harus lebih diutamakan. (Zaky Yamani/”PR”)***

Selasa, 08 Januari 2013

Ngaran raja-raja sunda baheula

Urang memang urang Sunda pituin sabab dikuatan
ku Karuhun urang atawa Rundayan memang ti
Sunda, tapi kadang urang sorangan anu ngaku yen
urang sunda pituin jarang apal kana sajarah jaman
baheula, diantawisna kan urang teh ngabogaan
pamingpin anu janten Ais Pangampih dina waktu
harita, pami ayeunamah panginten Presiden
namung pami baheulamah disebat Raja.... Tah
kusabab kitu urang anu kudu neuruskeun kajayaan
atawa sabagean pagawean Aranjeuna, namung
bade tiasa neuraskeun kumaha dalah apal oge
hanteu ka Raja urang baheulana oge.
Sakeudik ngaguar perkawis Raja Sunda jaman
baheula, di handap ieu nyaeta Nami-nami Raja
Sunda anu Baheula nu pernah ngarajaan di Tatar
Sunda.

Raja - Raja Sunda
1. Tarusbawa ( 669 – 723 )
2. Harisdarma ( 723 – 732 )
3. Tamperan Barmawijaya ( 732- 739 )
4. Rakéyan Banga ( 739 – 766 )
5. Rakéyan Medang Prabu Hulukujang
( 766 – 783 )
6. Prabu Gilingwesi ( 783 – 795 )
7. Pucukbumi Darméswara ( 795 – 819 )
8. Rakéyan Wuwus Prabu Gajah Kulon
( 819 – 891 )
9. Prabu Darmaraksa
10. Windusakti Prabu Déwageng ( 895 –
913 )
11. Rakéyan Kamuning Gading Prabu
Pucukwesi ( 913 – 916 )
12. Rakéyan Jayagiri ( 916 – 942 )
13. Atmayadarma Hariwangsa ( 942 –
954 )
14. Limbur Kancana ( 954 – 964 )
15. Munding Ganawirya ( 964 – 973 )
16. Rakéyan Wulung Gadung ( 973 – 989 )
17. Brajawisésa ( 989 – 1012 )
18. Déwa Sanghiyang ( 1012 – 1019 )
19. Sanghiyang Ageng ( 1019 – 1030 )
20. Sri Jauabupati ( Détya Maharaja)
( 1030 – 1042 )
21. Darmaraja (Sang Mokténg Winduraja)
( 1042 – 1065 )
22. Langlangbumi ( Sang Mokténg Kerta)
( 1065 – 1155 )
23. Rakéyan Jayagiri Prabu Ménakluhur
( 11 55 – 1157 )
24. Darmakusuma (Sang Mokténg
Winduraja) ( 1157 – 1175 )
25. Darmasiksa Prabu Sanghiyang Wisnu
( 1175 – 1297 )
26. Ragasuci (Sang Mokténg Taman) ( 1297
– 1303 )
27. Citraganda (Sang Mokténg Tanjung)
( 1303 – 1311 )
Mudah-mudahan Tulisan peurkawis Nami Raja
Sunda ieu aya manfaatna khususna kanggo
simkuring atuh umumnamah kanggo saderek
sadayana anu meuryogikeun Ieu makalah, amit
mundur lain pundungan ngejat lain nyingkahan tapi
mmemang geus waktuna tur kuduna Simkuring
indit
Tina Polemik Naskah Pangéran Wangsakerta
Hasil bakti hiji blog http://
bujanggamanik.wordpress.com