I'TIRAF (PENGAKUAN) |
*اِلهَِيْ لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاََ * وَلاَ أَقْوَى عَلَى نَارِ الْجَحِيْمِ* |
*فَهَبْ لِيْ تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبِيْ * فَإِنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ الْعَظِيْمِ* |
*ذُنُوْبِيْ مِثْلُ أَعْدَادِ الرِّمَالِ * فَهَبْ لِيْ تَوْبَةً يَا ذَا الْجَلاَلِ* |
*وَعُمْرِيْ نَاقِصٌ فِيْ كُلِّ يَوْمٍ * وَذَنْبِيْ زَآئِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِىْ* |
*اِلهَِيْ عَبْدُكَ الْعَاصِي أَتَاكَ * مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ* |
*فَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَاكَ أَهْلُ * وَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُوْ سِوَاكَ* |
TRANSKRIP |
Ilaahi Lastu Lil Firdausi Ahla – Walaa Aqwa ‘Ala Naaril Jahimi Fahabli Taubataw Wahgfir Dzunuubiy – Fa Innaka Ghafirudz Dzanbil ‘Adlimi Dzunuubiy Mitslu A’daadir Rimaali – Fa Habli Taubatay Ya Dzal Jalali Wa ‘Umri Naqishun Fi Kulli Yaumin – Wa Dzanbi Zaaidun Kaifah Timali Ilaahi ‘Abdukal ‘Ashi Ataaka – Muqirran Bidz Dzunubi Wa Qad Da’aaka Fa In Taghfir Fa Anta Lizaka Ahlu – Wa In Tathrud Fa Man Narju Siwaaka |
TERJEMAHAN (INDONESIA) |
Ya Tuhanku Ku Tak Layak Ke-Surga-Mu Tak Sanggup Pula Menahan Siksa Di-Neraka-Mu Berikan Aku Jalan Taubat Ampun Dosaku Sesungguhnya Engkaulah Pengampun Engkau Yang Agung |
Dosa-Dosaku Bagaikan Banyak Pasir Dipantai Berikan Aku Jalan Menuju Taubat Pada-Mu Usiaku Berkurang Slalu Setiap Hari Namun Dosaku Bertambah Slalu, Bagaimana Ini? |
Ya Tuhanku Hamba Berdosa Datang Pada-Mu Mengaku Dosa, Memohon Serta Keampunan-Mu Jika Kau Ampun Memanglah Engkau Maha Pengampun Jika Kau Menolak Kemana Lagi Kami Berharap? |
Minggu, 26 Mei 2013
Itiraf
MANFAAT SURAT AL-WAQIAH
Senin, 13 Mei 2013
I'tiraf
Gini nih ceritanya sampai doa itu terlantunkan…
Alkisah, seorang laki – laki setengah baya sedang duduk sendirian, memperhatikan matahari yang berangsur – angsur tenggelam. Suasananya cukup hening. Ia melihat begitu indahnya warna langit yang di penuhi dengan mega berwarna kuning jingga. Ia memperhatikannya dengan seksama, hingga akhirnya suasana indah itu hilang seiring dengan tenggelamnya matahari di ufuk barat. Entah apa penyebabnya, tiba – tiba ia tak mampu membendung air matanya. Hatinya terasa pedih. Ia menangis tersedu – sedu. Ia menengadahkan kedua tangannya sambil berkata :
” Ilahi lastu lil firdausi ahlan
Walaa aqwaa ‘alannaril jahiimii
fahabli taubatan waghfir dzunuubi
fainnaka ghafirudzdzambil ‘adzhiimii
dzunuubi mitslu a’daadir rimali
fahablii taubatan yaa dzal jalaali
wa ‘umrii naaqishun fii kulliyaumi
wa dzambii zaa idun kaifahtimali
ilahi ‘abdukal ‘aashi ataaka
muqirran bi dzunubi waqad da’aaka
fa in taghfir faanta lidzaka ahlun
wa in tadrud faman narjuu siwaakaa “
Terjemahannya kurang lebih demikian :
” Ya Tuhanku, aku tidaklah pantas menjadi ahli syurga firdausMu
Namun aku juga tak kan sanggup masuk ke neraka jahimMU.
Oleh karena itu, terimalah taubatku dan tutupilah dosa – dosaku.
Sesungguhnya Engkau maha mengampuni dosa – dosa besar.
Dosa – dosa ku seperti hamparan pasir di laut, maka terimalah taubatku wahai Dzat yang Maha Agung…
Umurku terus berkurang setiap hari, namun dosa – dosaku bertambah setiap hari…
Bagaimana aku mampu menanggungnya ?
Ya Tuhanku, hambaMu yang berlumur dosa ini datang kepadaMU
Sesungguhnya aku benar – benar berdosa kepadaMU
Dan bila Engkau tidak mengampuni aku, kepada siapa lagi aku berharap selain Engkau ?”
Abu Nawas, sosok yang dikenal sosok lugu, agak pandir dan sering kita anggap sosok konyol yang tingkah dan ucapannya mengundang tawa, sebenarnya adalah orang yang baik dan sangat jujur. Kalimat – kalimat diatas adalah bentuk pengakuan dirinya atas semua dosa – dosa yang telah ia perbuat. Ketika Ia menyadari usianya yang semakin senja, tentu saja kepastian untuk segera kembali menghadap ALLAH itu pun akan segera datang.
Ia menangis ketika menyaksikan matahari tenggelam, karena ia menyadari bahwa orang hidup di dunia ini dapat di ibaratkan seperti itu. Namun jarang sekali kita mau merenungkan tanda – tanda kebesaran ALLAH swt. Dan mengambil pelajaran dari peristiwa demi peristiwa dalam hidup kita.
Ketika matahari akan tenggelam sering kali membawa suasana menyenangkan dan warna langit menjadi sangat indah. Sampai – sampai banyak orang yang terlena oleh keindahannya. Sementara mereka tidak menyadari bahwa sebentar lagi matahari akan tenggelam dan kegelapan malampun akan segera menyelimutinya. Kecuali orang yang sadar dan telah menyiapkan diri dengan membawa lentera untuk menerangi ketika malam tiba.
Rasulullah saw menangis hingga berguncang dadanya dan jenggotnya basah oleh air mata ketika menerima wahyu yang berbunyi : ” Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda – tanda (kebesaran ALLAH) bagi orang – orang yang berakal. Yaitu orang – orang yang mengingat ALLAH sambil berdiri atau duduk ataupun berbaring, dan mereka yang merenungkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata : ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini semua dengan sia – sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka.’ ” (QS. Ali – Imran : 190 – 191)
Ketika Bilal bin Rabbah, muadzin kesayangan Rasulullah datang menegur, ” Mengapa engkau menangis wahai Rasulullah ? Padahal ALLAH telah mengampuni dosa – dosamu yang lalu dan yang akan datang ?”
Rasulullah pun menjawab, ” Bukankah aku belum menjadi hamba yang bersyukur ? Aku menangis karena tadi malam telah turun wahyu kepadaku yang bunyinya : ‘Celakalah orang – orang yang membaca ayat ini kemudian tidak mau merenungkannya.’ “
Saat ini, Rasulullah dan Abu Nawas sama – sama sudah tiada, namun kita harus merenungkan semua ini. Sudahkah kita menjadi hamba yang bersyukur dan menyadari keberadaan kita di dunia ini dan kewajiban kita padaNYA.
Seperti yang di katakan oleh Rasulullah bahwa hidup di dunia ini hanya persinggahan saja untuk menuju ke tujuan utama kita yaitu akhirat. Namun sudah cukupkan bekal kita untuk melakukan perjalanan tersebut ? Perjalanan akhirat menuju kehidupan yang sebenarnya, yang kekal dan abadi ?
Wallahualam bi shawab….
Semoga kita selalu dapat mengambil pelajaran dari setiap peristiwa…
Kamis, 28 Maret 2013
Ema
Ema ukur cimata
Ema ukur tumarima
Ema pangjajap kanggo salira
Ukur kacinta ngahias amparan rasa
Kadeudeuh anu Katampi Lir mega nyimbutan rasa
Ya Allah anu welas anu asih mugia sing di bukakeun surga
Rumasa abdi baheula Ka ema Teu weleh baha dugi Ka pinuh kudosa dosa...
Ya Allah anu welas anu asih mugia di bukakeun surga
Abdi pangampura Sagala dosana ema
Caangkeun di alam baka caangkeun...
Selasa, 26 Maret 2013
Naha geuning Ema teh umurna Teu Lila
nu datang silih gantian bari jeung teu nyaho datangna , teu nyaho ingkahna
poe ieu kuring sedih....duka isuk pageto mah
sedih teh dumeh enggal keneh dikantun ku pun Ema
hadena masih aya dulur jeung baraya nu silih upahan sangkan ulah sedih katutuluyan
jeungna deui salaku muslim teu diwenangkeun ku agama ngalulungkut kabingung jeung kasedih terus-terusan ...sok inget ka hiji lagu sunda ,mun seug di gerenteskeun danget ayeuna matak ngageri ati rambay cisoca.....
Aya mangsana datang
aya mangsana mulang
mulang jeung datang pinasti kasorang
najan hate pinuh ku kabeurat
ngagalindeng ngaturkeun wilujeung angkat
pileuleuyan.....pileuleuyan mugia patepang deui.........
Ema.........pileuleuyan wilujeng angkat
mugia anjeun aya dina karidhoan ALLAH Ta'ala
Amien...ya robal alamin
ti kuring nu keur tunggara
26 Maret 2013
Rabu, 30 Januari 2013
Nambih wawasan aslina makam prabu geusan ulun
Padahal, Raja Sumedanglarang Itu Makamnya Ada
di Sumedang
Prabu Geusan Ulun Dimakamkan di
Garut?
BILA kita berkunjung ke objek wisata
Sayangheulang Garut selatan, tepat di ujung barat
pantai terdapat bukit kecil. Di puncak bukit itu
terdapat sebuah makam keramat yang oleh
penduduk sekitar diakui sebagai makam Prabu
Geusan Ulun. Keberadaan makam tersebut agak
mengherankan. Seperti diketahui, Prabu Geusan
Ulun adalah Raja Sumedanglarang dan di wilayah
Sumedang pun terdapat makamnya. Mungkin juga
akan mengundang pertanyaan, apakah Prabu
Geusan Ulun yang dimakamkan di Sayangheulang
ini adalah tokoh yang sama dengan Prabu Geusan
Ulun Raja Sumedanglarang?
Sebenarnya, masyarakat sekitar pun tidak
mengetahui dengan pasti mengenai hal ini.
Sejauh yang mereka tahu, Prabu Geusan
Ulun yang dimakamkan di Sayangheulang
adalah seorang tokoh dan penyebar agama
Islam. Seperti yang diutarakan oleh Umen
Herdiana, KCD Pariwisata Wilayah
Pameungpeuk, berdasarkan cerita rakyat
sekitar, Prabu Geusan Ulun adalah seorang
raja dan tokoh penyebar Islam yang punya
sebuah perguruan Islam di Gunung Nagara
Depok.
Saat menjelang wafat, tokoh yang juga
dikenal sebagai Eyang Geusan Ulun ini
berwasiat kepada murid-muridnya, bila
wafat, ia ingin dikuburkan di suatu tempat, di mana
parukuyan (batok kelapa yang berisi bara api) yang
ia hanyutkan di Sungai Cipalebuh berhenti.
Parukuyan itu pertama kali dihanyutkan di Gunung
Nagara di wilayah Bantarpeundeuy Depok. Setelah
lama hanyut dengan diikuti oleh murid-murid
Eyang Geusan Ulun, parukuyan tersebut” berhenti
di muara Sungai Cipalebuh, tepat di kaki bukit kecil
di Sayangheulang. Akhirnya, setelah wafat, jenazah
Eyang Geusan Ulun dimakamkan di puncak bukit
itu oleh murid-muridnya.
Setelah jenazah dimakamkan, parukuyan tersebut
kemudian hanyut kembali dan berhenti di sebuah
karang besar di tepi pantai Santo. Karang itu lalu
diberi nama Karang Kukusan, yang hingga saat ini
masih ada.
Keterangan yang berbeda justru diungkapkan oleh
kuncen makam Prabu Geusan Ulun, Yayat
Supriyatna bin Udin. Saat ditemui “PR” beberapa
waktu lalu, Yayat mengaku tidak mengetahui
bagaimana sejarahnya Prabu Geusan Ulun bisa
dimakamkan di Sayangheulang. Namun, ia
menawarkan kepada “PR” agar berbicara langsung
dengan arwah Prabu Geusan Ulun yang bisa ia
panggil untuk “nyurup” ke dalam dirinya.
Setelah melakukan prosesi ritual di dekat makam
Prabu Geusan Ulun, Yayat langsung kesurupan.
Yang bersangkutan mengucapkan salam dan
kemudian terdiam untuk beberapa saat dengan
mata terpejam dan urat leher terlihat tegang. Pada
kesempatan itu, “PR” bertanya bagaimana
sejarahnya Prabu Geusan Ulun bisa dimakamkan di
Sayangheulang.
“Sang prabu” bertutur, ia sebenarnya berasal dari
wilayah Panjalu. Ia terpaksa meninggalkan wilayah
Panjalu karena lama kelamaan masyarakat di
Panjalu sudah semakin meninggalkan ajaran Islam.
Pergilah ia ke suatu tempat untuk menyepi dan
lokasi Sayangheulanglah yang kemudian ia pilih
untuk menetap selama 10 tahun hingga akhir
hayatnya. Ia juga merunut beberapa kuncen yang
pernah menjaga makamnya. Pertama adalah Eyang
Jagawana, yang juga masih keturunannya.
Dilanjutkan oleh Mama Emen, Lurah
Kardiwijayakusumah, Irob, dan terakhir Yayat
Supriyatna bin Udin, yang saat itu dijadikan
sebagai media bagi arwah sang prabu untuk
berbicara. Menurut pengakuan “arwah” Eyang
Geusan Ulun, saat ini sudah menginjak tahun
ke-470 ia bersemayam di Sayangheulang.
Tidak ada catatan
Sementara itu, menurut pakar sejarah, yang juga
pendiri Yayasan Pendidikan Gilang Kencana Garut,
Sulaeman Anggapradja, nama Geusan Ulun di
Sayangheulang tidak ada dalam catatan sejarah.
Menurutnya, selama meneliti dan mengumpulkan
dokumen sejarah tentang wilayah Garut dan
sekitarnya, tidak pernah terdengar nama Geusan
Ulun yang dimakamkan di Sayangheulang. Saat
melihat foto lokasi makam Geusan Ulun, Sulaeman
berpendapat, besar kemungkinan makam tersebut
merupakan bangunan baru dan tokohnya pun
kemungkinan bukan tokoh yang berperan di dalam
sejarah. “Mungkin hanya tokoh masyarakat
setempat saja yang dihormati dan makamnya
kemudian dikeramatkan,” ujar Sulaeman.
Lebih lanjut Sulaeman menjelaskan nama Geusan
Ulun adalah sebuah gelar bagi seorang tokoh atau
pimpinan yang dihormati rakyatnya. Menurutnya,
Geusan Ulun di Sayangheulang jelas bukan Geusan
Ulun raja Sumedanglarang karena Prabu Geusan
Ulun dari Sumedang jelas catatan sejarah dan
keberadaan makamnya. Hal tersebut diperkuat oleh
pengalaman Sulaeman, yang beberapa kali
menemukan dalam catatan sejarah nama Geusan
Ulun di tempat yang berbeda-beda. Ditegaskannya,
Geusan Ulun di Sayangheulang besar kemungkinan
hanya tokoh yang dibuat-buat saja. “Karena
penamaan Geusan Ulun tidak diberikan kepada
sembarang orang. Hanya orang-orang besar saja
yang diberi gelar itu. Kalau Geusan Ulun di
Sayangheulang memang tokoh besar, tentunya
akan tercatat di dalam catatan sejarah, tetapi
selama ini kan tidak ada,” tegasnya.
Terlepas dari ada atau tidak adanya Geusan Ulun
dari Sayangheulang, kenyataannya saat ini makam
tersebut dikeramatkan dan banyak diziarahi
masyarakat. Makam tersebut berpotensi dijadikan
aset wisata, namun tentu saja kebenaran sejarah
harus lebih diutamakan. (Zaky Yamani/”PR”)***
Selasa, 08 Januari 2013
Ngaran raja-raja sunda baheula
Urang memang urang Sunda pituin sabab dikuatan
ku Karuhun urang atawa Rundayan memang ti
Sunda, tapi kadang urang sorangan anu ngaku yen
urang sunda pituin jarang apal kana sajarah jaman
baheula, diantawisna kan urang teh ngabogaan
pamingpin anu janten Ais Pangampih dina waktu
harita, pami ayeunamah panginten Presiden
namung pami baheulamah disebat Raja.... Tah
kusabab kitu urang anu kudu neuruskeun kajayaan
atawa sabagean pagawean Aranjeuna, namung
bade tiasa neuraskeun kumaha dalah apal oge
hanteu ka Raja urang baheulana oge.
Sakeudik ngaguar perkawis Raja Sunda jaman
baheula, di handap ieu nyaeta Nami-nami Raja
Sunda anu Baheula nu pernah ngarajaan di Tatar
Sunda.
Raja - Raja Sunda
1. Tarusbawa ( 669 – 723 )
2. Harisdarma ( 723 – 732 )
3. Tamperan Barmawijaya ( 732- 739 )
4. Rakéyan Banga ( 739 – 766 )
5. Rakéyan Medang Prabu Hulukujang
( 766 – 783 )
6. Prabu Gilingwesi ( 783 – 795 )
7. Pucukbumi Darméswara ( 795 – 819 )
8. Rakéyan Wuwus Prabu Gajah Kulon
( 819 – 891 )
9. Prabu Darmaraksa
10. Windusakti Prabu Déwageng ( 895 –
913 )
11. Rakéyan Kamuning Gading Prabu
Pucukwesi ( 913 – 916 )
12. Rakéyan Jayagiri ( 916 – 942 )
13. Atmayadarma Hariwangsa ( 942 –
954 )
14. Limbur Kancana ( 954 – 964 )
15. Munding Ganawirya ( 964 – 973 )
16. Rakéyan Wulung Gadung ( 973 – 989 )
17. Brajawisésa ( 989 – 1012 )
18. Déwa Sanghiyang ( 1012 – 1019 )
19. Sanghiyang Ageng ( 1019 – 1030 )
20. Sri Jauabupati ( Détya Maharaja)
( 1030 – 1042 )
21. Darmaraja (Sang Mokténg Winduraja)
( 1042 – 1065 )
22. Langlangbumi ( Sang Mokténg Kerta)
( 1065 – 1155 )
23. Rakéyan Jayagiri Prabu Ménakluhur
( 11 55 – 1157 )
24. Darmakusuma (Sang Mokténg
Winduraja) ( 1157 – 1175 )
25. Darmasiksa Prabu Sanghiyang Wisnu
( 1175 – 1297 )
26. Ragasuci (Sang Mokténg Taman) ( 1297
– 1303 )
27. Citraganda (Sang Mokténg Tanjung)
( 1303 – 1311 )
Mudah-mudahan Tulisan peurkawis Nami Raja
Sunda ieu aya manfaatna khususna kanggo
simkuring atuh umumnamah kanggo saderek
sadayana anu meuryogikeun Ieu makalah, amit
mundur lain pundungan ngejat lain nyingkahan tapi
mmemang geus waktuna tur kuduna Simkuring
indit
Tina Polemik Naskah Pangéran Wangsakerta
Hasil bakti hiji blog http://
bujanggamanik.wordpress.com

