Kamis, 13 Desember 2012

Alasan randy blate di penjara

Vokalis band metal Lamb Of
God, sebuah band yang dikenal anti Islam dan
sering mengajarkan anti tuhan, dijebloskan ke
penjara karena kasus yang menyebabkan
kematian atas penggemarnya saat konser di Praha
Republik Ceko.
Kasus ini terjadi ketika, Lamb Of God tampil di tour
dunia mereka di Ceko. Saat itu seorang
penggemarnya hendak melakukan moshing
(lompatan ke penonton) dari atas panggung.
setelah dua kali melakukan moshing pada moshing
ketiga, Randy Blythe (41) vokalis Lamb Of God
yang merasa terganggu dengan aksi penonton
tersebut mendorongnya dari atas panggung hingga
terjatuh dan mengalami benturan kepala, yang
mengakibatkan geger otak, lalu penonton
tersebutpun meninggal dunia.
Randy dituduh mencelakakan orang lain dan
menyebabkan kematian dan bisa mendapatkan
pidana dengan hukuman 5-10 tahun penjara. Larry
Mazer manager band Lamb Of God saat ini sedang
mengusahakan pembebasan bersyarat atas Randy
Blythe.
Gitaris dari Lamb Of God sendiri berharap Randy
bisa dibebaskan secepatnya.
"Saya tidak sabar untuk memberikan Randy
pelukan hangat," jelasnya seperti dikutip dari ABC
News.
Kepolisian Praha sendiri baru memberi kepastian
atas pengajuan pembebasan bersyarat ini pada hari
Selasa (09/07/2012), sementara Randy sendiri
sudah mendekam di dalam penjara sejak 27 Juni
2012 lalu.
Mendiskreditkan Agama
Lamb Of God adalah salah satu band “anti Islam”
yang digemari kalangan anak muda dunia. Di
Beberapa lagu-lagunya secara vulgar Lamb Of God
mengajak orang meninggalkan Tuhan dan agama
untuk menyembah setan seperti di lagu mereka
yang berjudul Walk With Me In Hell (Berjalan
denganku di neraka).
Bahkan pada lagu berjudul 11 Hours (Sebelas
Jam), Lamb Of God menyindir para mujahidin Islam
dan perjuangan Palestina. 11 Hours sendiri
merupakan jumlah durasi dari lamanya
pembantaian tentara Zionis-Israel kepada
pengungsi Shabra Shatillah pada tahun 1982.
Pada tour konser Killadelphia 2006, mereka secara
vulgar menjadikan Surat Arrahman sebagai lagu
pembuka, sebelum mereka memainkan lagu Laid
To Rest yang berisikan ajakan menihilkan doktrin
agama dalam kehidupan. Ada baiknya, para remaja
mulai meninggalkan orang-orang yang tidak pantas
ditokohkan dan tidak pantas jadi panutan hidup.*

Dipenjara, Randy Blythe Rajin Tulis Buku Harian

Sudah 3 minggu vokalis Lamb of
God Randy Blythe dipenjara.
Randy tak mau terus murung
merenungi nasibnya. Di penjara,
Randy mengaku rajin menulis
termasuk mengisi buku harian.
"Saya membaca, menulis surat
untuk teman, keluarga dan saya
juga punya buku harian," ujar
Randy dilansir Ultimate Guitar,
Rabu (18/7/2012).
Ia pun sudah mulai terbiasa dengan kehidupan di balik
penjara. Randy mulai berteman dengan tahanan lain.
Kehidupannya di penjara pun membuat Randy
terinspirasi untuk menulis lirik.
Meski sudah mulai terbiasa, tentu saja Randy berharap
masa penahanannya segera berakhir. Pasalnya Randy
belum dinyatakan bersalah dan telah membayar jaminan
sekitar Rp 1,5 miliar kepada hukum Republik Ceko.
Namun sayang ia tak juga dibebaskan.
"Jika saya kembali ke Amerika, saya akan memotong
rumput, menghabiskan waktu dengan keluarga dan
segera manggung, jadi saya bisa bayar hutang hukum
ini," jelasnya.
Salah satu hal yang membuat Randy kuat di tengah
cobaan tersebut adalah orang-orang terdekatnya. Randy
selalu mendapat banyak dukungan. Bahkan sang istri
tercinta sempat menengoknya di penjara Republik Ceko
beberapa waktu lalu.
"Pertemuan saya dengan istri sangatlah indah dan
memberi semangat. Saya juga menerima pesan dari
dukungan dari keluarga, teman serta rekan band, mereka
merindukan saya dan saya tak sabar untuk bertemu
mereka semua," tutupnya.

Beragama Ala Komunitas Musik Metal Ujungberung


Selama ini masyarakat mengenal komunitas musik
bawahtanah (underground) identik dengan narkotika,
alkohol, seks bebas. Apalagi pasca Insiden Sabtu
Kelabu Tragedi AACC (Asia Africa Culture Center), 9
Februari 2008 yang merenggut nyawa 11 orang
(Novi Febriana, Dicky Zaelani Sidik, Kristianto, M.
Yusuf Ferdian, Agung Fauzi Pratama, Dadi, Ahmad
Wahyu, Yudi, Novan, Ahmad Forqon dan Entis
Sutisna) pada saat band metal, Beside menggelar
konser peluncuran album yang berjudul “Against
Ourselves” di Gedung Asia Africa Culture Center
(AACC), Jalan Braga Bandung yang menyeret tiga
orang panitia konser (Aditya Arga Sasmita, Herdi
Eka Putra dan Sugiana Ali) ke meja hijau dan
dijatuhi vonis hukuman; Aditya Arga Sasmita, 2
tahun 6 bulan dan Herdi Eka Putra dan Sugiana Ali,
10 bulan.
Sungguh tragedi itu semakin memperburuk citra
pegiat musik indie di tengah-tengah hidup
bermasyarakat. Urusan keagamaan sering dianggap
tak pernah ada di kalangan metal ini. Benarkah?
Dalam buku Memoar Melawan Lupa, Catatan-
catatan tentang Insiden Sabtu Kelabu Tragedi AACC
9 Februari 2008 dan Ujungberung Rebels yang
ditulis oleh Kimung terbitan Minor Books,
CommonRoom dan Hivos pada 9 Februari 2011 sarat
dengan keagamaan.
Namun, model keberagamaan para pemusik metal
ini tidak hanya dilihat dari aspek ritual (shalat,
puasa, pergi ke mesjid, menghadiri pengajian,
memakai peci, kerudung, sarung) semata, tapi bisa
dilihat dari segi pemikiran, perilaku dan
karya nyata. Meskipun, ada beberapa pentolan indie
sangat kuat memegang aturan agama.
Mari kita telaah secara seksama dalam buku babon
dari Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels dengan
memegang teguh slogan ”…Panceg dina galur/
babarengan ngajaga lembur. Moal ingkah najan
awak lebur…”
Ageman # 1, Launching album band Beside, Against
Ourselves di bagian Against # 2 Sabtu Kelabu
(Bandung, 9 Februari 2008, Sabtu Kelabu) sebelum
acara dimulai terjadi dialog antara Addy Gembel
dengan Owank”Waduh, tegang euy Pa Addy. Doain
saya ya, biar lancar.” Owank memegang tangan
Gembel dengan erat. Raut mukanya memang
menunjukkan hal itu.
“Wah jangan nyuruh Gembel buat berdoa atuh.
Mendingan kalian aj yang berusaha,” sambil
bercanda Gembel memegang erat tangannya.
Semua personil tertawa. Lalu satu per satu dari
mereka merapat membentuk lingkaran. Mereka
berdoa bersama lalu secara serempak berteriak
lantang “Beside” (h.21)
Ageman # 2, Saat berlangsung konser yang
mendadak lampu neon temaram mati. Makin
terhimpit dan terseret-seret oleh desakan orang di
belakangnya. Mulai terdengar teriakan-teriakan
kesakitan. Suasana benar-benar dilanda kepanikan.
Di depan Gembel, jaraknya kurang lebih dua meter,
seorang nak berbaju putih nampak kepayahan
terhimpit. Posisinya tepat merapat ke dinding.
Tubuh mungilnya terhimpit oleh desakan masa dari
arah depan sementara badannya terhalan dinding.
Pertolongan diberikan oleh Gembel. Banyaknya
yang pngsan membuat Gembel kembali berlari
menuju kerumunan. Seorang remaja tanpa pakaian
tengah diseret oleh seseorang. Ia segera
membantu. Kondisinya sudah sangat payah. Ada
Butchex the Cruel yang datang membantu.
“Chex, urang butuh mobil jang ngangkut korban.
Sakalian jieun jalur evakuasi. Tulungan nyak!”
sedikit berteriak saya meminta pertolongan Butchex
“Oke, siap. Barudak urang aya nu mawa mobil.
Korbana bawa ka sisi jalan heula. Jadi langsung
diangkut.” Dengan sigap Butchex merespon.
Gembel segera menuju lorong pintu artis, berteriak
agar area tersebut dokosongkan untuk
mempermudah evakuasi orang ingsan. Remaja yang
pingsan bersama kawan yang lain digotong keluar
gedung. Sampai di luar nampak lalu lintas macet.
Gelisah kembali menyergap Gembel ketika menanti
kedatangan mobil yang dijanjikan Buthex. Semenit,
dua menit. Waktu berjalan sekan sangat lambat.
Semenit, dua menit lagi. Tak sabar, Gembel segera
saja meletakkan anak yang pingsan tersebut di
pinggir jalan dan segera berlari ke arah bar Kyoki,
menemui aparat dan mobil patwal.
“Pak, maaf. Saya butuh kendaraan segera. Ada
beberapa orang yang harsu segera dibawa ke rumah
sakit. Kondisinya kritis,” mencoba mencari
pertolongan pada aparat tersebut
“Mas panitia bukan?” balik aparat itu bertanya
“Bukan, Pak. Saya cuma nolongin aja,” jawab saya
dongkol karena aparat itu tak segera merespon
malah memperlambat rencana evakuasi saya
dengan pertanyaan yang menurut hematnya tidak
usah dilancarkan saaat itu.
‘Ya sudah, tenang saja. Ambulan dalam perjalanan,”
jawab aparat itu lagi mencoba meyakinkan Gembel.
(h.26)
Ia segera balik lagi dan berlari ke arah orang yang
tadi ia gotong. Sekilas ketika melintas ia juga
melihat sosok yang sedang tergeletak sendirian.
Ketika sampai, lagi-lagi ia terlambat. Tampak
kawannya sedang menangis meratapi jasad
di sisinya. Jasad bertelanjang dada. Sepatunya
tinggal satu. Gembel masih belum nyakin. Ia
periksa semua tanda kehidupan di tubuhnya.
Semuanya nihil. Lagi-lagi Gembel tak percaya. Dia
saudah pergi, batin Gembel. Dadanya semakin
sesak. Mata Gembel mulai panas berair. Antara
marah, kecewa dan sedih. mendadak senyap
menyergapnya. Gembel merasa sangat sendirian di
tengah semua keriuhan yang sedang berlangsung
saat itu.
Sedetik, dua detik, keriuhan kembali menghajar
relung paling sepi dalam diri Gembel, menghjarnya
telak, mengembalikkan kesadaranya. Sejurus, ia
melihat Andris Burgerkill bertelanjang dada sedang
sibuk menggotong seseorang. Segera ia membantu
Andris.
“Urang bawa ka mobil si Andika,” Andris memberi
perintah Mereka bergegas menggotong anak yang
pingsan itu  melewati kerumunan penonton yang
masih membludak panik. Andika saudah menanti di
mobilnya. Korban dimasukkan melewati pintu
bagasi.
“Bah aya hiji deui nu kudu ditulungan. Konisina
kritis. Jigana kudu gancang dibawa” Gembel
mengajar Andris. Kami segera berlari menembus
kemacetan kendaraan, menembus kerumunan
orang-orang menuju arah bar Kyoki. Ternyata sudah
ada banyak aparat di sana. Tampak sedang
mengerubungi tubuh yang tergeletak. Andris berlari
menerobos kerumunan tersebut.
“Pak, tolongin dia! Cepet angkut!” Andris duduk di
samping jenazah dan berteriak lantang pada aparat.
“Kamu siapa? Kamu panitia ya?” aparat balik
bertanya dengan nada membentak.
“Saya bukan panitia, Pak! Saya cuma kasihan liat
orang ini” Andris memberian pembelaan
“Ya sudah, kamu diem aja! Gak usah sok sibuk! Ini
sudah jadi kewenangan aparat” nadanya makin
tinggi. Lalu Andris didorong ke belakang. Suasana
mendadak memanas. Andris, sang mesin tempur
Ujungberung Rebels yang terkenal tak takut kepada
siapapun termasuk aparat itu jelas meradang. Ia
berbalik mendorong badan si aparat tadi bersiap-
siap mementahkan bogemnya, tidak terima atas
perlakuakn aparat tersebut. (h.27)
Ageman # 3, Atas pemberitaan yang simpang siur
dan memojokan musik metal, Eben Burgerkill
Homeles Crew menusik secar detil tentang
Kronologi Tragedi AACC, Bandung, 9 Februari 2008,
Cerita pendek Tragedi Berdarah konser
musik Beside. Pada paragraf terakhir menulis
Dengan adanya tulisan pendek ini mudah-mudahan
berita miring di media yang terkesan memojokan
teman-teman komunitas atas tragedi ini dapat
sedikit diluruskan, dan kejadian ini dapat dijadikan
contoh kasus yang perlu diteladani dan disikapi
dengan benar oleh semua pihak yang berkaitan
dengan pelaksanaan sebuah konser musik. Tulisan
ini hanya sebuah pandangan dan opini seorang
musisi, teman, dan penikmat musik yang sangat
mengharapkan suasana yang kondusif dari sebuah
konser. Dari lubuk hati yang paling dalam saya
mewakili komunitas musik sejagad Indonesia
turut merasakan prihatin dan belasungkawa yang
sedalam-dalamnya atas tragedi ini. Semoga teman-
teman kami yang telah pergi dapat beristirahat
dengan tenang dan segala kebaikannya diterima
disisi Allah SWT, Amien…
Live hard, die hard… Rest In Peace Brothers!
We’re gonna miss u… (h.32)
Ageman # 4, Kali pertama Seminar Musik digelar
pada tanggal 16 Februari 208 yang mengusung tema
“Equal Fest 2008: Diskusi Publik dan Malam Seribu
Lilin untuk Korban Insiden sabtu Kelabu, Dago Tea
Huis dan AACC” Reggie mengenang “Equal Fest
ceuk aing acara paling keren nu pernah dihelar ku
komunitas! Acara ieu bener-bener fenomenal, acara
musik dirobah jadi seminar. Kabeh datang. Can
pernah aing saumur hirup datang ke seminar nu
dihariri ku barudak metal kabeh nepi bisa minuhan
sa-Dago Tea House. Jabeh jelema, kabeh
komunitas saling papangih. Nu asalna jauh, jadi
deukeut, bisa ngobrol bareng dina posisi nu sarua.
Urang ningali ieu jadi hiji proses pendewasaan nu
alus pisan keur barudak. Aing terharu mun ningali
ieu Equal Fest. Sababaraha kali aing leweh lantaran
bangga”
Tampilnya Pa Marsion sekalu dari korban Ahmad
Wahyu Effendi mengenang ata meninggal anaknya
pada acara seminar ini memberikan harapan yang
berarti bagi komunitas metal. “Saya tidak
menyangka ini akan terjadi. Sebelum berangkat,
Ahmad minta izin kepada ibunya dan saya,”
tuturnya. Namun, kabar buruk mengenai Ahmad
diterimanya malam itu. Anak saya tewas. “Kejadian
ini sangat memukul. Ahmad pamit dalam keadaan
sehat, tapi pulang sudah jadi mayat. Sebagai
orantgua saya sangat terpukul,” tuturnya
Meski bersedih dan merasa kehilangan, Pa Marsion
tak menutup mata. Ia melihat musuk bawahtanah
memiliki banyak peminat, termasuk almarhum
anaknya. Karena itu, ia berpesan “Kepasa anak
muda yang suka nonton konser jangan sampai
kapok. Tapi ini harus jadi pelajaran. Kalau nonton
jangan sampai enggal tertib.” Dengan legowo, Pa
Marsion juga berpesan kepada band Beside untuk
tidak menjadikan Tragedi Sabtu Kelabu sebagai
penghambat untuk terus berkreasi. “Terimakasih
kepada band Beside. Jangan sampai merasa
disalahkan. Terus berkarya”
Harapan dan harpan yang bergulir dari setiap kata
Bapak luar biasa satu ini seperti untaian doa yang
terus bergulir. Bagi komunikas bawahtanah, doanya
adalah seperti sebuah mukjizat untuk tetap hidup
dan melanjutkan perjuangan. Begitupun dengan doa
dari orang-orang tua korban lainnya. Anak mereka
telah tersemat dalam benak dan hati komunitas
baah tanah sebagai phlawan. Sudah sepatutnya
kematian mereka dijadikan refleksi oleh
komunitas bawahtanah itu sendiri. Semoga arwah
para pahlawan kami ini bisa diterima di sisi-Nya.
Amin (h.57)
Setelah usai acara di Dago Tea House semua yang
hadir dengan tertib berkonvoi ke Gedung AACC di
Jalan Barga untuk melakukan tabur bungan dan doa
bersama. Di depan Gedung AACC telah dikondisikan
rangkaian bungan dan puluhan lilin serta beberapa
para tradisionalis yang akan melakukan rajah,
pembacaan doa, mohon ampun dan
meminta perlindungan agar langkah semua orang di
kota ini sesantiasa diberi perlindungan oleh Sang
Maha Kuasa. Rajah diterukan dengan perenungan,
pembacaan doa bersama, memainkan lesenian
tradisional. Kolektivitas komunitas bawahtanah
Bandung berbaur menjadi satu dalam wadah yang
saling berbaurdan menunjukkan seimpai dan
dukungan luar biasa. Taiap komunitas yang ada di
Bandung saling mendukung satu sama lain sehingga
gedung di Dago tea House ini terpenuhi. (h.58)
Ageman # 6, Suasana hati kelabu dari tragedi pada
konser peluncuran album grup band Beside itu
masih menggantung di underground scene Bandung.
Liputan ini ditulis oleh Lusiana Indriasari. Ritual di
pemakaman dilakukan, beberapa pertemuan dan
diskusi yang berhubungan dengan masalah ini
digelar. Keprihatinan juga diungkapkan dalam
bahasa mereka, lewat zine mereka, misalnya
dengan kata-kata: ”…kematian adalah hal yang
biasa, namun kematian yang tidak dikenang adalah
hal yang menyakitkan”, ”Menjadi Tua itu pasti,
melupakan yang Muda itu pilihan. Dewasa Mu
Bukan Untuk Ku…” (ini ungkapan dari zine Never
Grow Up). (h.73)
Ketika rock merongrong pop dan menjadi motor
gerakan perlawanan budaya di kalangan anak-anak
muda, dalam  kapasitasnya sendiri dengan
informasi yang terbatas pada masa tahun 1960-an,
apa yang terjadi di Barat itu juga segera punya
pengaruh terhadap gaya hidup anak muda di mana-
mana. Bisa dibayangkan situasi masa kini ketika
dunia menjadi satu—istilah Thomas Friedman ”jagat
menjadi rata”—bagaimana pengaruh itu menembus
sampai pelosok desa, taruhlah Ujungberung,
kawasan di pinggiran Bandung bagian timur.
Informasi dari jagat maya telah menjadikan anak-
anak muda Ujungberung menjalani trajectory
budaya. Sore atau petang mengaji, malam kumpul
teman-teman ber-metal-ria. Bahasa duka cita
mereka ungkapkan lewat t-shirt
seperti ”underground berkabung” tadi, atau bahasa-
bahasa lain lewat zine mereka. (h. 73)
Ageman #7, Peluncuran album Against Ourselves
milik band Beside secara jelas dimuat www.supri-
online.com Ini tulisannya;
Sejenak mari kita tundukkan kepala pagi martyr
metal undergrounders yang telah meninggalkan kita
di launching album beside – against ourselves
bulan Februari lalu.Mari kita gali lebih lanjut album
yang diluncurkan bulan Februari lalu tersebut.
Scene Ujung Bronx selalu menghasilkan band band
yang berbahaya, salah satunya dalah BESIDE dan
lewat album ini mereka menyajikan musik musik
metalcore yang banyak terinspirasi oleh band
seperti Chimaira, Soilwork, Lamb of God dan
lainnya. Bila kita hanya mendapatkan sampler
berupa lagu saja tanpa kita mengenal band
ini sebelumnya, saya berani bertaruh anda pasti
menganggap lagu tersebut asal dari band luar
negeri .Yap pasti .. kualitas recording dan mixing
yang rapi dihidangkan di album ini sehingga
sepintas mirip band2x Trustkill Records. Album
ini berisi total 11 lagu dengan durasi kurang lebih
hanya setengah jam saja. Lagu lagu yang powerful
ini dikemas sedemikian rupa sehingga pendengar
akan dimanjakan dengan komposisi lagu lagu yang
cukup enak didengar dari riff2x gitar yang melodius
dikombinasikan dengan beat drum yang cukup baik
mengisi dan mengatur tempo pada lagu lagu milik
Beside ini.
Diawali oleh lagu akustik berjudul intro, lagu yang
agak kelam menyuarakan sesuatu di balik album
ini.dan memang album yang dikemas ulang dengan
bentuk digipak CD ini memuat nama nama para
martyr yang telah meninggalkan kita pada launching
album ini. Dilanjutkan dengan komposisi apik
berjudul the end of pain yang dapat dikategorikan
sebagai lagu bertempo menghentak dan cukup easy
listening. Lagu lain yang cukup menggigit adalah
7th Deadly Sin , sebuah lagu yang diawali dengan
riff riff gitar ala Lamb of God .  Lagu yang berlirik
sarkasme muncul di lagu aku adalah Tuhan, sebuah
plesetan pada hubungan vertical kita dengan Tuhan.
Tema dalam album ini kebanyakan agak sarkasme
dengan mengedepankan kekerasan dan ketidak
adilan dalam hidup. (h. 130)
Ageman #8, Sayap komunitas Ujungberung Rebels
yang paling muda, Bandung Death Metal Syndicate
(BDMS). Untuk Bandung Death Fest III dengan
slogan “Panceg Dina Galur Moal Ingkah Najan Awal
Lebur” yang dilaksanakan di Yonif Zipur 09
Ujungberung, Agustus 2008. Acara rencananya
digelar dari pukul 3.00 sampai 21.00 WIB, dibuka
oleh rajahan dan doa bersama yang dipimpin oleh
komunitas kelompok adat Sunda. (h. 148)
Bandung Deathfest III; Wilujeng Bonge!!! dibuka oleh
rajah Pamuka, sebuah ritual bgai keselamatan
bersama. Sehabias merajah, semua berdiri, saling
bersalaman. Bah Adung, sesepuh Sunda
memercikkan air bungan ke semua yang hadir
di rajah saat itu. Sejuknya menghamparkan
kedamaian, menghantarkan semua yang hadir ke
titik nol, titik paling nihil, kekuatan total untuk
berjuang. Ya, semua yang hadir sudah siap berjuang
saat itu. (h. 176)
Repotase acara Bandung Deathfest 3 dilaporkan
secara lengkap oleh METALnino;
Sesuai rundown, event dimulai tepat pukul 1 siang
dengan dibuka oleh band lokal OPIUM yang sama-
sama mendapatkan jatah tampil sama dengan band
penampil lainnya selama 25 menit. Yes, mereka
mengusung death metal,pastinya. EDEN COLLAPSE
selanjutnya yang kebagian jatah membantai telinga,
disusul dengan band death metal Bandung;
EMBALMED (Berpersonilkan ex-member nya
NAKED TRUTH). Band ini berformasikan: Idat
(Gitar), Ari (Drum), Riki (Bass) dan Sabo (Vocal).
Usai EMBALMED, tampil band brutal death generasi
baru asal Bandung yang terus terang sempat
membuat saya kagum sebelumnya saat menikmati
lagu-lagu mereka di my space. Fuckin Incredible!
You rulez bro! Dan sekarang ini ternyata saya bisa
langsung mengarahkan langsung mata saya kepada
live perform mereka.
DISINFECTED kebagian melakukan penyiksaan
setelah MANNEQUIN dan mengusung 5 buah lagu;
“Reek shit on a tomb”,”Melted”,”Aku akan bunuh
kamu”,”Master of puppets”(cover lagu milik
METALLICA yang dibrutalkan aransemennya) dan
lagu pamungkas bertitel “Within’ Subconcious
mind”, disusul BLEEDING CORPSE, band
brutal death metal tuan rumah yang belum lama ini
baru saja menelurkan debut album yang sangat
menakjubkan; “Ressurection of Murder”. Nuansa
style a-la DISAVOWED langsung menghantam
panggung. Brutal as fuck!!! Selain intro, BLEEDING
CORPSE juga menyuguhkan 5 lagu dalam set list
mereka; “Ressurection of murder”,”bangkai
para pendosa”,”Inhuman Treatment”,”Simpuh tubuh
terbunuh” dan ditutup oleh lagu pamungkas
“Exsecusi mati” yang notabene merupakan lagu
baru.
Dan selesai dengan band yang satu ini, panggung
kemudian dibuat santai oleh atraksi pencak silat
yang berakhir menjelang azan magrib. Penonton
akhirnya terlihat mendingin dan sebagian besar
diantaranya lebih memilih untuk duduk-duduk
santai di pinggiran venue. Sebagian dari mereka
terlihat mempersiapkan diri untuk beribadah
sholat magrib, dan sebagian lagi malah terlihat asik
memanjakan tenggorokan dengan anggur merah,
botol-botol vodka dan berbagai penyegar lainnya
(Ha ha ha!). Maklum, hari segera gelap; cuaca
dingin full hawa pegunungan segera
menusuk tulang. Sementara itu sebagian panitia
yang beristirahat menjelang magrib, terlihat kompak
nongkrong bareng bersama rekan-rekan brimob
yang bertugas di venue. Sambil bercanda tawa
tentunya! Enjoy! (h. 177-178)
Ageman #9, Sebagai penutup rangkaian Helarfest
2008, diset sebuah acara besar yang digelar di GOR
Saparua akhir (30) Agustus 2008. Acara tersebut
bertajuk “Baheula, Ayeuna, Salilana Saparua :
Bandung Youthpark Fest yang digelar oleh Gimmick
Enterprise pimpinan Edi Brokoli. Edi menyebutkan
jika tujuan acara ini adalah silaturahim antara
para pionir ranah musik bawahtanah Bandung era
1990an dengan kaum muda tahun 2000an akhir,
nostagilaan, mengingat kembali semangat luar
biasa ketika musik ini semakin hadir di hati para
pengusungnya sehingga sebesar sekarang.
Dan untuk itulah GOR Saparuan dianggap sebagai
tempat yang tetap. Ini laporan khas www.supri-
online.com
BAHEULA, AYEUNA, SALILANA – SAPARUA ….!!!
Merupakan tema dari acara Bandung Youth Park
Fest ini … Nostalgiaan euy … bertemu dengan
teman lama , silaturahmi adalah misi utama saya
dating ke sini, karena sudah lama hingar bingar
musik bawah tanah tidak menggema di kawasan ini.
BYPF ini bisa menjadi prototype dari metalfest
skala Nasional, karena memiliki 2 panggung,
outdoor dan indoor. Outdoor diperuntukkan bagi
kalangan underground yang memiliki banyak
massa, sedangkan bagian Indoor bagi band yang
tidak memiliki basis masa cukup besar,
sehingga didesain sedemikian rupa sehingga
menyerupai diskotik dengan tata cahaya lampu yang
sangat baik, sehingga apapun band dan DJ yang
tampil disini penonton disuguhi oleh pertunjukan
yang luar biasa .Acara ini menurut saya
berhasil mengembalikan ‘rasa’ yang telah lama
hilang bagi semua kalangan penikmat musik apakah
itu metal, underground, electronics, ska, punk
apapun namanya untuk kembali menikmati masa
masa indah dahulu ketika bermain di
saparua, dimana ribuan orang hadir di GOR Saparua
ini. Namun mood kegembiraan, suka cita ini tiba
tiba hilang berubah menjadi kekecewaan luar biasa
ketika menerima kabar bahwa show ini dicut
dengan alasan yang bernama ijin keramaian.
(h. 183-184)
GOR Saparuan merupakan tempat besejarah dan
iconnya musik underground Bandung. Di sela-sela
beraktivitas masih ada pentolan metal yang kuat
menjalankan ibadah. Ini diceritakan oleh Funny
Amaliasari Murtilam, kawan kuliah Kimung, Ivan
Sumbag dan Kobah di Fakultas Sastra Unpad secara
rinci menuliskan pengalamnya bersama Kiming
Dajjal ”Saya juga gak lupa sama Kiming Dajjal”
Emang sih, musik Dajjal gak gitu kena di telinga,
tapi sebagai performer, Dajjal asik. Fansya juga
heboh. Kalo mereka manggung, kaya ada suasana
‘lain’, apalagi di lapang ada puluhan (atau bisa jadi
ratusan) fans mereka yang kebanyakan berambut
gondrong dan hampir semua berbaju item-item
tumpah melakukan ‘ritual’ headbanging.
Kiming punya rambut yang lebih ajaib dari kimung.
Rambut gimbalnya panjang banget. Lebih panjang
dari rambut Chicha Koeswoyo jaman nyanyiin ‘Heli,
guk, guk guk…’ itu. Saya sering ngeliat dia di BIP.
Kalo dia ngelewat, yang saya perhatiin bukan
Kiming-nya, tapi orang-orang yang berpapasan
sama dia atau ngeliat dia. Ekspresinya pasti
sama, takjub!
Tapi, hal yang sangat berkesan dari Kiming -
eventhough I don’t know him personally- adalah dia
sering say temui di musholla kalo saya Shalat
Ashar atau Maghrib disela acara. Yup! Dia lagi
shalat. Itu juga jadi hal yang berkesan buat Aniesz.
Pernah saya dan Anoez lagi ngiket tali sepatu,
Kiming lagi ngobrol seabis shalat disebelah saya.
Seabis ngobrol, dia berdiri, trus dengan rmah pamit
sama orang-orang yang duduk didekatnya, didepan
musholla, termasuk sama saya dan Aniez, Hayu ah,
mayunan”. How cool! (h. 190-191)
Ketidak sediaan tempat musik bawahtanah
dikeluhkan oleh Kimung;
Satu pertanyaan yang selalu melintas dalam kepala
saya sejak 13 tahun lalu, kenapa konser metal di
adakan di dalam sebuah gedung oleh raga? 13 tahun
yang lalu saya bisa mengira-ngira jawabannya”…Oh
kan menterinya juga ‘pora’, pemuda dan olah raga,
jadi segala bentuk kepemudaan bisa diolahragakan,
termasuk musik kaum muda yang
kemudian diafiliasikan sebagai kegiatan olah
raga….”Hmmm, saya sempat puas denga jawaban
itu walaun tetap saja ada ganjalan.
Entah apa itu. Sedikit terpuaskan juga dengan apa
yang dikatakan sahabat saya, “Heavy metal is a
sport, man!” Ya, musik keras memang butuh
stamina dan apa yang dikatakan sahabat saya benar
belaka. Namun, bermain musik di gedung oleh raha?
Ah, 13 tahun yang lalau saya masih harus puas jika
musik adalah kepemudaan dan
pemerintah memfasilitasinya dengan gedung oleh
raga. Hmmm, orba banget! Padahal seluruh
Indonesia, bahkan Asia dan Swedia serta negera-
negare Eropa tahu jika Bandung adalah barometer
musik Indonesia. Kota kratif yang tak punya
gedung konser musik. Menyedihkan!
Sedikit saya kembali teringat sentilan yang saya,
Kang Tisna dan Kang Utun buat, ayo udunan beli
tanah untuk kita rawat sebagai hutan kota sekaligus
lahan konser musik dan youth center di mana
segala ada di sini, ada gerai makanan khas,
perpustakaan, toko buku, pusat riset dan
dokumentasi kepemudaan, pusat musik, skate park,
sarana olah raga, pokoknya tempat yang asyik bagi
kawula muda untuk gaul! Tempat yang dikelola oleh
kaum muda, untuk kepentingan kaum muda, untuk
kepentingan semua pihak. Apakah Saparuan
mungkin? Tak ada yang tak mungkin! Kuncinya
adalah cinta karena dengan cinta kita jadi
konsisten. Bukankah dengan cinta yang besar
kepada Allah, nabi Musa aja bisa membelah laut?
Mari cintai kaum muda dan Kota Bandung, maka
kita bisa mewujudkannya! (h. 194-195)
Ageman # 10, Adithia Argasasmita, terpidana kasus
tragedi konser maut yang digelar di Asia Afrika
Culture Centre (AACC) Februari 2008 silam,
dibebaskan dari Rumah Tahanan (Rutan) Klas I
Bandung, sekitar pukul 15.00WIB, Senin 18 Agustus
2009 yang seharusnya baru dapat menghirup udara
segar tertanggal 10 Juni 2010 karena telah masa
pidana selama 2 tahun 6 bulan.
Adit mengaku bersyukur atas pembebasanya.
Rencananya, akan tetap menjalani profesi dibidang
Event Organizer (E.O) untuk konser Underground.
“Tapi tentunya saya mengambil hikmah dari ini
semua agar kedepannya ketika memfasilitasi
sebuah event, harus berhati-hati,” ujarnya (h. 203)
Upaya mengenang 2 Tahun Insiden AACC digelar
acara Melawan Lupa di Common Room pada tanggal
17 Februari 2010Insiden ini merupakan malam yang
tidak akan dilupakan oleh sebagian orang, sehingga
dirasa penting untuk berefleksi dan mengenang
kejadiannya, selain mengenang momen
kebersamaan, serta mengambil hikmah dari
kejadian itu. Melawan Lupa, adalah momen krusial
dan tagline penting dalam peringatan tahun ini.
Berbeda dengan acara peringatan tahun lalu, agenda
yang dilakukan tahun ini adalah mengaji dan berdoa
untuk para korban dengan cara yang lebih
sederhana. Malam peringatan pun dihadiri keluarga
korban sebagai bentuk penghargaan kepada para
korban yang telah menjadi bagian dari komunitas
anak muda yang terlibat di dalam insiden ini.
Satu yang perlu disadari bahwa, insiden AACC
bukanlah kesalahan satu pihak, namun kesalahan
berbagai elemen terkait. Entah itu mulai dari pihak
penyelenggara acara, penonton, pengelola gedung,
polisi, pemerintah, media massa, hingga
masyarakat. Banyak pihak yang sebetulnya
berperan dalam insiden ini. Momen penting malam
peringatan dua tahun tersebut merupakan
pembelajaran untuk berbuat lebih nyata, mengambil
hikmahnya, bersatu padu, dan menjadikan hari esok
lebih baik dari hari ini. Dan kejadian malam
tersebut, merupakan pelajaran untuk masa depan
yang lebih baik, jika kita mampu menyikapinya
dengan bijak. Selesai berdoa, acara ditutup dengan
makan tumpeng bersama dan melanjutkannya
dengan menabur bunga di pelataran Gedung AACC.
(h. 204)
Inilah model keberagamaan komunitas metal
Ujungberung Rebels. [Ibn Ghifarie]
Judul : MEMOAR MELAWAN LUPA, Catatan-catatan
tentang Insiden Sabtu Kelabu Tragedi AACC 9
Februari 2008 dan Ujungberung Rebels
Penulis : Kimung
Penyunting I : Yusandi
Penyunting II : Addy Gembel
Desain sampul : Arief Budiman
Tata letak : Dani popup
Cetakan I, Februari 2011
Penerbit : Minor Books
ISBN : 979-602-25-5892-6

Beragama Ala Komunitas Musik Metal Ujungberung Rebels # 1


Selama ini masyarakat mengenal komunitas musik
bawahtanah (underground) identik dengan narkotika,
alkohol, seks bebas. Apalagi pasca Insiden Sabtu
Kelabu Tragedi AACC (Asia Africa Culture Center), 9
Februari 2008 yang merenggut nyawa 11 orang
(Novi Febriana, Dicky Zaelani Sidik, Kristianto, M.
Yusuf Ferdian, Agung Fauzi Pratama, Dadi, Ahmad
Wahyu, Yudi, Novan, Ahmad Forqon dan Entis
Sutisna) pada saat band metal, Beside menggelar
konser peluncuran album yang berjudul “Against
Ourselves” di Gedung Asia Africa Culture Center
(AACC), Jalan Braga Bandung yang menyeret tiga
orang panitia konser (Aditya Arga Sasmita, Herdi
Eka Putra dan Sugiana Ali) ke meja hijau dan
dijatuhi vonis hukuman; Aditya Arga Sasmita, 2
tahun 6 bulan dan Herdi Eka Putra dan Sugiana Ali,
10 bulan.
Sungguh tragedi itu semakin memperburuk citra
pegiat musik indie di tengah-tengah hidup
bermasyarakat. Urusan keagamaan sering dianggap
tak pernah ada di kalangan metal ini. Benarkah?
Dalam buku Memoar Melawan Lupa, Catatan-
catatan tentang Insiden Sabtu Kelabu Tragedi AACC
9 Februari 2008 dan Ujungberung Rebels yang
ditulis oleh Kimung terbitan Minor Books,
CommonRoom dan Hivos pada 9 Februari 2011 sarat
dengan keagamaan.
Namun, model keberagamaan para pemusik metal
ini tidak hanya dilihat dari aspek ritual (shalat,
puasa, pergi ke mesjid, menghadiri pengajian,
memakai peci, kerudung, sarung) semata, tapi bisa
dilihat dari segi pemikiran, perilaku dan
karya nyata. Meskipun, ada beberapa pentolan indie
sangat kuat memegang aturan agama.
Mari kita telaah secara seksama dalam buku babon
dari Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels dengan
memegang teguh slogan ”…Panceg dina galur/
babarengan ngajaga lembur. Moal ingkah najan
awak lebur…”
Ageman # 1, Launching album band Beside, Against
Ourselves di bagian Against # 2 Sabtu Kelabu
(Bandung, 9 Februari 2008, Sabtu Kelabu) sebelum
acara dimulai terjadi dialog antara Addy Gembel
dengan Owank”Waduh, tegang euy Pa Addy. Doain
saya ya, biar lancar.” Owank memegang tangan
Gembel dengan erat. Raut mukanya memang
menunjukkan hal itu.
“Wah jangan nyuruh Gembel buat berdoa atuh.
Mendingan kalian aj yang berusaha,” sambil
bercanda Gembel memegang erat tangannya.
Semua personil tertawa. Lalu satu per satu dari
mereka merapat membentuk lingkaran. Mereka
berdoa bersama lalu secara serempak berteriak
lantang “Beside” (h.21)
Ageman # 2, Saat berlangsung konser yang
mendadak lampu neon temaram mati. Makin
terhimpit dan terseret-seret oleh desakan orang di
belakangnya. Mulai terdengar teriakan-teriakan
kesakitan. Suasana benar-benar dilanda kepanikan.
Di depan Gembel, jaraknya kurang lebih dua meter,
seorang nak berbaju putih nampak kepayahan
terhimpit. Posisinya tepat merapat ke dinding.
Tubuh mungilnya terhimpit oleh desakan masa dari
arah depan sementara badannya terhalan dinding.
Pertolongan diberikan oleh Gembel. Banyaknya
yang pngsan membuat Gembel kembali berlari
menuju kerumunan. Seorang remaja tanpa pakaian
tengah diseret oleh seseorang. Ia segera
membantu. Kondisinya sudah sangat payah. Ada
Butchex the Cruel yang datang membantu.
“Chex, urang butuh mobil jang ngangkut korban.
Sakalian jieun jalur evakuasi. Tulungan nyak!”
sedikit berteriak saya meminta pertolongan Butchex
“Oke, siap. Barudak urang aya nu mawa mobil.
Korbana bawa ka sisi jalan heula. Jadi langsung
diangkut.” Dengan sigap Butchex merespon.
Gembel segera menuju lorong pintu artis, berteriak
agar area tersebut dokosongkan untuk
mempermudah evakuasi orang ingsan. Remaja yang
pingsan bersama kawan yang lain digotong keluar
gedung. Sampai di luar nampak lalu lintas macet.
Gelisah kembali menyergap Gembel ketika menanti
kedatangan mobil yang dijanjikan Buthex. Semenit,
dua menit. Waktu berjalan sekan sangat lambat.
Semenit, dua menit lagi. Tak sabar, Gembel segera
saja meletakkan anak yang pingsan tersebut di
pinggir jalan dan segera berlari ke arah bar Kyoki,
menemui aparat dan mobil patwal.
“Pak, maaf. Saya butuh kendaraan segera. Ada
beberapa orang yang harsu segera dibawa ke rumah
sakit. Kondisinya kritis,” mencoba mencari
pertolongan pada aparat tersebut
“Mas panitia bukan?” balik aparat itu bertanya
“Bukan, Pak. Saya cuma nolongin aja,” jawab saya
dongkol karena aparat itu tak segera merespon
malah memperlambat rencana evakuasi saya
dengan pertanyaan yang menurut hematnya tidak
usah dilancarkan saaat itu.
‘Ya sudah, tenang saja. Ambulan dalam perjalanan,”
jawab aparat itu lagi mencoba meyakinkan Gembel.
(h.26)
Ia segera balik lagi dan berlari ke arah orang yang
tadi ia gotong. Sekilas ketika melintas ia juga
melihat sosok yang sedang tergeletak sendirian.
Ketika sampai, lagi-lagi ia terlambat. Tampak
kawannya sedang menangis meratapi jasad
di sisinya. Jasad bertelanjang dada. Sepatunya
tinggal satu. Gembel masih belum nyakin. Ia
periksa semua tanda kehidupan di tubuhnya.
Semuanya nihil. Lagi-lagi Gembel tak percaya. Dia
saudah pergi, batin Gembel. Dadanya semakin
sesak. Mata Gembel mulai panas berair. Antara
marah, kecewa dan sedih. mendadak senyap
menyergapnya. Gembel merasa sangat sendirian di
tengah semua keriuhan yang sedang berlangsung
saat itu.
Sedetik, dua detik, keriuhan kembali menghajar
relung paling sepi dalam diri Gembel, menghjarnya
telak, mengembalikkan kesadaranya. Sejurus, ia
melihat Andris Burgerkill bertelanjang dada sedang
sibuk menggotong seseorang. Segera ia membantu
Andris.
“Urang bawa ka mobil si Andika,” Andris memberi
perintah Mereka bergegas menggotong anak yang
pingsan itu  melewati kerumunan penonton yang
masih membludak panik. Andika saudah menanti di
mobilnya. Korban dimasukkan melewati pintu
bagasi.
“Bah aya hiji deui nu kudu ditulungan. Konisina
kritis. Jigana kudu gancang dibawa” Gembel
mengajar Andris. Kami segera berlari menembus
kemacetan kendaraan, menembus kerumunan
orang-orang menuju arah bar Kyoki. Ternyata sudah
ada banyak aparat di sana. Tampak sedang
mengerubungi tubuh yang tergeletak. Andris berlari
menerobos kerumunan tersebut.
“Pak, tolongin dia! Cepet angkut!” Andris duduk di
samping jenazah dan berteriak lantang pada aparat.
“Kamu siapa? Kamu panitia ya?” aparat balik
bertanya dengan nada membentak.
“Saya bukan panitia, Pak! Saya cuma kasihan liat
orang ini” Andris memberian pembelaan
“Ya sudah, kamu diem aja! Gak usah sok sibuk! Ini
sudah jadi kewenangan aparat” nadanya makin
tinggi. Lalu Andris didorong ke belakang. Suasana
mendadak memanas. Andris, sang mesin tempur
Ujungberung Rebels yang terkenal tak takut kepada
siapapun termasuk aparat itu jelas meradang. Ia
berbalik mendorong badan si aparat tadi bersiap-
siap mementahkan bogemnya, tidak terima atas
perlakuakn aparat tersebut. (h.27)
Ageman # 3, Atas pemberitaan yang simpang siur
dan memojokan musik metal, Eben Burgerkill
Homeles Crew menusik secar detil tentang
Kronologi Tragedi AACC, Bandung, 9 Februari 2008,
Cerita pendek Tragedi Berdarah konser
musik Beside. Pada paragraf terakhir menulis
Dengan adanya tulisan pendek ini mudah-mudahan
berita miring di media yang terkesan memojokan
teman-teman komunitas atas tragedi ini dapat
sedikit diluruskan, dan kejadian ini dapat dijadikan
contoh kasus yang perlu diteladani dan disikapi
dengan benar oleh semua pihak yang berkaitan
dengan pelaksanaan sebuah konser musik. Tulisan
ini hanya sebuah pandangan dan opini seorang
musisi, teman, dan penikmat musik yang sangat
mengharapkan suasana yang kondusif dari sebuah
konser. Dari lubuk hati yang paling dalam saya
mewakili komunitas musik sejagad Indonesia
turut merasakan prihatin dan belasungkawa yang
sedalam-dalamnya atas tragedi ini. Semoga teman-
teman kami yang telah pergi dapat beristirahat
dengan tenang dan segala kebaikannya diterima
disisi Allah SWT, Amien…
Live hard, die hard… Rest In Peace Brothers!
We’re gonna miss u… (h.32)
Ageman # 4, Kali pertama Seminar Musik digelar
pada tanggal 16 Februari 208 yang mengusung tema
“Equal Fest 2008: Diskusi Publik dan Malam Seribu
Lilin untuk Korban Insiden sabtu Kelabu, Dago Tea
Huis dan AACC” Reggie mengenang “Equal Fest
ceuk aing acara paling keren nu pernah dihelar ku
komunitas! Acara ieu bener-bener fenomenal, acara
musik dirobah jadi seminar. Kabeh datang. Can
pernah aing saumur hirup datang ke seminar nu
dihariri ku barudak metal kabeh nepi bisa minuhan
sa-Dago Tea House. Jabeh jelema, kabeh
komunitas saling papangih. Nu asalna jauh, jadi
deukeut, bisa ngobrol bareng dina posisi nu sarua.
Urang ningali ieu jadi hiji proses pendewasaan nu
alus pisan keur barudak. Aing terharu mun ningali
ieu Equal Fest. Sababaraha kali aing leweh lantaran
bangga”
Tampilnya Pa Marsion sekalu dari korban Ahmad
Wahyu Effendi mengenang ata meninggal anaknya
pada acara seminar ini memberikan harapan yang
berarti bagi komunitas metal. “Saya tidak
menyangka ini akan terjadi. Sebelum berangkat,
Ahmad minta izin kepada ibunya dan saya,”
tuturnya. Namun, kabar buruk mengenai Ahmad
diterimanya malam itu. Anak saya tewas. “Kejadian
ini sangat memukul. Ahmad pamit dalam keadaan
sehat, tapi pulang sudah jadi mayat. Sebagai
orantgua saya sangat terpukul,” tuturnya
Meski bersedih dan merasa kehilangan, Pa Marsion
tak menutup mata. Ia melihat musuk bawahtanah
memiliki banyak peminat, termasuk almarhum
anaknya. Karena itu, ia berpesan “Kepasa anak
muda yang suka nonton konser jangan sampai
kapok. Tapi ini harus jadi pelajaran. Kalau nonton
jangan sampai enggal tertib.” Dengan legowo, Pa
Marsion juga berpesan kepada band Beside untuk
tidak menjadikan Tragedi Sabtu Kelabu sebagai
penghambat untuk terus berkreasi. “Terimakasih
kepada band Beside. Jangan sampai merasa
disalahkan. Terus berkarya”
Harapan dan harpan yang bergulir dari setiap kata
Bapak luar biasa satu ini seperti untaian doa yang
terus bergulir. Bagi komunikas bawahtanah, doanya
adalah seperti sebuah mukjizat untuk tetap hidup
dan melanjutkan perjuangan. Begitupun dengan doa
dari orang-orang tua korban lainnya. Anak mereka
telah tersemat dalam benak dan hati komunitas
baah tanah sebagai phlawan. Sudah sepatutnya
kematian mereka dijadikan refleksi oleh
komunitas bawahtanah itu sendiri. Semoga arwah
para pahlawan kami ini bisa diterima di sisi-Nya.
Amin (h.57)
Setelah usai acara di Dago Tea House semua yang
hadir dengan tertib berkonvoi ke Gedung AACC di
Jalan Barga untuk melakukan tabur bungan dan doa
bersama. Di depan Gedung AACC telah dikondisikan
rangkaian bungan dan puluhan lilin serta beberapa
para tradisionalis yang akan melakukan rajah,
pembacaan doa, mohon ampun dan
meminta perlindungan agar langkah semua orang di
kota ini sesantiasa diberi perlindungan oleh Sang
Maha Kuasa. Rajah diterukan dengan perenungan,
pembacaan doa bersama, memainkan lesenian
tradisional. Kolektivitas komunitas bawahtanah
Bandung berbaur menjadi satu dalam wadah yang
saling berbaurdan menunjukkan seimpai dan
dukungan luar biasa. Taiap komunitas yang ada di
Bandung saling mendukung satu sama lain sehingga
gedung di Dago tea House ini terpenuhi. (h.58)
Ageman # 6, Suasana hati kelabu dari tragedi pada
konser peluncuran album grup band Beside itu
masih menggantung di underground scene Bandung.
Liputan ini ditulis oleh Lusiana Indriasari. Ritual di
pemakaman dilakukan, beberapa pertemuan dan
diskusi yang berhubungan dengan masalah ini
digelar. Keprihatinan juga diungkapkan dalam
bahasa mereka, lewat zine mereka, misalnya
dengan kata-kata: ”…kematian adalah hal yang
biasa, namun kematian yang tidak dikenang adalah
hal yang menyakitkan”, ”Menjadi Tua itu pasti,
melupakan yang Muda itu pilihan. Dewasa Mu
Bukan Untuk Ku…” (ini ungkapan dari zine Never
Grow Up). (h.73)
Ketika rock merongrong pop dan menjadi motor
gerakan perlawanan budaya di kalangan anak-anak
muda, dalam  kapasitasnya sendiri dengan
informasi yang terbatas pada masa tahun 1960-an,
apa yang terjadi di Barat itu juga segera punya
pengaruh terhadap gaya hidup anak muda di mana-
mana. Bisa dibayangkan situasi masa kini ketika
dunia menjadi satu—istilah Thomas Friedman ”jagat
menjadi rata”—bagaimana pengaruh itu menembus
sampai pelosok desa, taruhlah Ujungberung,
kawasan di pinggiran Bandung bagian timur.
Informasi dari jagat maya telah menjadikan anak-
anak muda Ujungberung menjalani trajectory
budaya. Sore atau petang mengaji, malam kumpul
teman-teman ber-metal-ria. Bahasa duka cita
mereka ungkapkan lewat t-shirt
seperti ”underground berkabung” tadi, atau bahasa-
bahasa lain lewat zine mereka. (h. 73)
Ageman #7, Peluncuran album Against Ourselves
milik band Beside secara jelas dimuat www.supri-
online.com Ini tulisannya;
Sejenak mari kita tundukkan kepala pagi martyr
metal undergrounders yang telah meninggalkan kita
di launching album beside – against ourselves
bulan Februari lalu.Mari kita gali lebih lanjut album
yang diluncurkan bulan Februari lalu tersebut.
Scene Ujung Bronx selalu menghasilkan band band
yang berbahaya, salah satunya dalah BESIDE dan
lewat album ini mereka menyajikan musik musik
metalcore yang banyak terinspirasi oleh band
seperti Chimaira, Soilwork, Lamb of God dan
lainnya. Bila kita hanya mendapatkan sampler
berupa lagu saja tanpa kita mengenal band
ini sebelumnya, saya berani bertaruh anda pasti
menganggap lagu tersebut asal dari band luar
negeri .Yap pasti .. kualitas recording dan mixing
yang rapi dihidangkan di album ini sehingga
sepintas mirip band2x Trustkill Records. Album
ini berisi total 11 lagu dengan durasi kurang lebih
hanya setengah jam saja. Lagu lagu yang powerful
ini dikemas sedemikian rupa sehingga pendengar
akan dimanjakan dengan komposisi lagu lagu yang
cukup enak didengar dari riff2x gitar yang melodius
dikombinasikan dengan beat drum yang cukup baik
mengisi dan mengatur tempo pada lagu lagu milik
Beside ini.
Diawali oleh lagu akustik berjudul intro, lagu yang
agak kelam menyuarakan sesuatu di balik album
ini.dan memang album yang dikemas ulang dengan
bentuk digipak CD ini memuat nama nama para
martyr yang telah meninggalkan kita pada launching
album ini. Dilanjutkan dengan komposisi apik
berjudul the end of pain yang dapat dikategorikan
sebagai lagu bertempo menghentak dan cukup easy
listening. Lagu lain yang cukup menggigit adalah
7th Deadly Sin , sebuah lagu yang diawali dengan
riff riff gitar ala Lamb of God .  Lagu yang berlirik
sarkasme muncul di lagu aku adalah Tuhan, sebuah
plesetan pada hubungan vertical kita dengan Tuhan.
Tema dalam album ini kebanyakan agak sarkasme
dengan mengedepankan kekerasan dan ketidak
adilan dalam hidup. (h. 130)
Ageman #8, Sayap komunitas Ujungberung Rebels
yang paling muda, Bandung Death Metal Syndicate
(BDMS). Untuk Bandung Death Fest III dengan
slogan “Panceg Dina Galur Moal Ingkah Najan Awal
Lebur” yang dilaksanakan di Yonif Zipur 09
Ujungberung, Agustus 2008. Acara rencananya
digelar dari pukul 3.00 sampai 21.00 WIB, dibuka
oleh rajahan dan doa bersama yang dipimpin oleh
komunitas kelompok adat Sunda. (h. 148)
Bandung Deathfest III; Wilujeng Bonge!!! dibuka oleh
rajah Pamuka, sebuah ritual bgai keselamatan
bersama. Sehabias merajah, semua berdiri, saling
bersalaman. Bah Adung, sesepuh Sunda
memercikkan air bungan ke semua yang hadir
di rajah saat itu. Sejuknya menghamparkan
kedamaian, menghantarkan semua yang hadir ke
titik nol, titik paling nihil, kekuatan total untuk
berjuang. Ya, semua yang hadir sudah siap berjuang
saat itu. (h. 176)
Repotase acara Bandung Deathfest 3 dilaporkan
secara lengkap oleh METALnino;
Sesuai rundown, event dimulai tepat pukul 1 siang
dengan dibuka oleh band lokal OPIUM yang sama-
sama mendapatkan jatah tampil sama dengan band
penampil lainnya selama 25 menit. Yes, mereka
mengusung death metal,pastinya. EDEN COLLAPSE
selanjutnya yang kebagian jatah membantai telinga,
disusul dengan band death metal Bandung;
EMBALMED (Berpersonilkan ex-member nya
NAKED TRUTH). Band ini berformasikan: Idat
(Gitar), Ari (Drum), Riki (Bass) dan Sabo (Vocal).
Usai EMBALMED, tampil band brutal death generasi
baru asal Bandung yang terus terang sempat
membuat saya kagum sebelumnya saat menikmati
lagu-lagu mereka di my space. Fuckin Incredible!
You rulez bro! Dan sekarang ini ternyata saya bisa
langsung mengarahkan langsung mata saya kepada
live perform mereka.
DISINFECTED kebagian melakukan penyiksaan
setelah MANNEQUIN dan mengusung 5 buah lagu;
“Reek shit on a tomb”,”Melted”,”Aku akan bunuh
kamu”,”Master of puppets”(cover lagu milik
METALLICA yang dibrutalkan aransemennya) dan
lagu pamungkas bertitel “Within’ Subconcious
mind”, disusul BLEEDING CORPSE, band
brutal death metal tuan rumah yang belum lama ini
baru saja menelurkan debut album yang sangat
menakjubkan; “Ressurection of Murder”. Nuansa
style a-la DISAVOWED langsung menghantam
panggung. Brutal as fuck!!! Selain intro, BLEEDING
CORPSE juga menyuguhkan 5 lagu dalam set list
mereka; “Ressurection of murder”,”bangkai
para pendosa”,”Inhuman Treatment”,”Simpuh tubuh
terbunuh” dan ditutup oleh lagu pamungkas
“Exsecusi mati” yang notabene merupakan lagu
baru.
Dan selesai dengan band yang satu ini, panggung
kemudian dibuat santai oleh atraksi pencak silat
yang berakhir menjelang azan magrib. Penonton
akhirnya terlihat mendingin dan sebagian besar
diantaranya lebih memilih untuk duduk-duduk
santai di pinggiran venue. Sebagian dari mereka
terlihat mempersiapkan diri untuk beribadah
sholat magrib, dan sebagian lagi malah terlihat asik
memanjakan tenggorokan dengan anggur merah,
botol-botol vodka dan berbagai penyegar lainnya
(Ha ha ha!). Maklum, hari segera gelap; cuaca
dingin full hawa pegunungan segera
menusuk tulang. Sementara itu sebagian panitia
yang beristirahat menjelang magrib, terlihat kompak
nongkrong bareng bersama rekan-rekan brimob
yang bertugas di venue. Sambil bercanda tawa
tentunya! Enjoy! (h. 177-178)
Ageman #9, Sebagai penutup rangkaian Helarfest
2008, diset sebuah acara besar yang digelar di GOR
Saparua akhir (30) Agustus 2008. Acara tersebut
bertajuk “Baheula, Ayeuna, Salilana Saparua :
Bandung Youthpark Fest yang digelar oleh Gimmick
Enterprise pimpinan Edi Brokoli. Edi menyebutkan
jika tujuan acara ini adalah silaturahim antara
para pionir ranah musik bawahtanah Bandung era
1990an dengan kaum muda tahun 2000an akhir,
nostagilaan, mengingat kembali semangat luar
biasa ketika musik ini semakin hadir di hati para
pengusungnya sehingga sebesar sekarang.
Dan untuk itulah GOR Saparuan dianggap sebagai
tempat yang tetap. Ini laporan khas www.supri-
online.com
BAHEULA, AYEUNA, SALILANA – SAPARUA ….!!!
Merupakan tema dari acara Bandung Youth Park
Fest ini … Nostalgiaan euy … bertemu dengan
teman lama , silaturahmi adalah misi utama saya
dating ke sini, karena sudah lama hingar bingar
musik bawah tanah tidak menggema di kawasan ini.
BYPF ini bisa menjadi prototype dari metalfest
skala Nasional, karena memiliki 2 panggung,
outdoor dan indoor. Outdoor diperuntukkan bagi
kalangan underground yang memiliki banyak
massa, sedangkan bagian Indoor bagi band yang
tidak memiliki basis masa cukup besar,
sehingga didesain sedemikian rupa sehingga
menyerupai diskotik dengan tata cahaya lampu yang
sangat baik, sehingga apapun band dan DJ yang
tampil disini penonton disuguhi oleh pertunjukan
yang luar biasa .Acara ini menurut saya
berhasil mengembalikan ‘rasa’ yang telah lama
hilang bagi semua kalangan penikmat musik apakah
itu metal, underground, electronics, ska, punk
apapun namanya untuk kembali menikmati masa
masa indah dahulu ketika bermain di
saparua, dimana ribuan orang hadir di GOR Saparua
ini. Namun mood kegembiraan, suka cita ini tiba
tiba hilang berubah menjadi kekecewaan luar biasa
ketika menerima kabar bahwa show ini dicut
dengan alasan yang bernama ijin keramaian.
(h. 183-184)
GOR Saparuan merupakan tempat besejarah dan
iconnya musik underground Bandung. Di sela-sela
beraktivitas masih ada pentolan metal yang kuat
menjalankan ibadah. Ini diceritakan oleh Funny
Amaliasari Murtilam, kawan kuliah Kimung, Ivan
Sumbag dan Kobah di Fakultas Sastra Unpad secara
rinci menuliskan pengalamnya bersama Kiming
Dajjal ”Saya juga gak lupa sama Kiming Dajjal”
Emang sih, musik Dajjal gak gitu kena di telinga,
tapi sebagai performer, Dajjal asik. Fansya juga
heboh. Kalo mereka manggung, kaya ada suasana
‘lain’, apalagi di lapang ada puluhan (atau bisa jadi
ratusan) fans mereka yang kebanyakan berambut
gondrong dan hampir semua berbaju item-item
tumpah melakukan ‘ritual’ headbanging.
Kiming punya rambut yang lebih ajaib dari kimung.
Rambut gimbalnya panjang banget. Lebih panjang
dari rambut Chicha Koeswoyo jaman nyanyiin ‘Heli,
guk, guk guk…’ itu. Saya sering ngeliat dia di BIP.
Kalo dia ngelewat, yang saya perhatiin bukan
Kiming-nya, tapi orang-orang yang berpapasan
sama dia atau ngeliat dia. Ekspresinya pasti
sama, takjub!
Tapi, hal yang sangat berkesan dari Kiming -
eventhough I don’t know him personally- adalah dia
sering say temui di musholla kalo saya Shalat
Ashar atau Maghrib disela acara. Yup! Dia lagi
shalat. Itu juga jadi hal yang berkesan buat Aniesz.
Pernah saya dan Anoez lagi ngiket tali sepatu,
Kiming lagi ngobrol seabis shalat disebelah saya.
Seabis ngobrol, dia berdiri, trus dengan rmah pamit
sama orang-orang yang duduk didekatnya, didepan
musholla, termasuk sama saya dan Aniez, Hayu ah,
mayunan”. How cool! (h. 190-191)
Ketidak sediaan tempat musik bawahtanah
dikeluhkan oleh Kimung;
Satu pertanyaan yang selalu melintas dalam kepala
saya sejak 13 tahun lalu, kenapa konser metal di
adakan di dalam sebuah gedung oleh raga? 13 tahun
yang lalu saya bisa mengira-ngira jawabannya”…Oh
kan menterinya juga ‘pora’, pemuda dan olah raga,
jadi segala bentuk kepemudaan bisa diolahragakan,
termasuk musik kaum muda yang
kemudian diafiliasikan sebagai kegiatan olah
raga….”Hmmm, saya sempat puas denga jawaban
itu walaun tetap saja ada ganjalan.
Entah apa itu. Sedikit terpuaskan juga dengan apa
yang dikatakan sahabat saya, “Heavy metal is a
sport, man!” Ya, musik keras memang butuh
stamina dan apa yang dikatakan sahabat saya benar
belaka. Namun, bermain musik di gedung oleh raha?
Ah, 13 tahun yang lalau saya masih harus puas jika
musik adalah kepemudaan dan
pemerintah memfasilitasinya dengan gedung oleh
raga. Hmmm, orba banget! Padahal seluruh
Indonesia, bahkan Asia dan Swedia serta negera-
negare Eropa tahu jika Bandung adalah barometer
musik Indonesia. Kota kratif yang tak punya
gedung konser musik. Menyedihkan!
Sedikit saya kembali teringat sentilan yang saya,
Kang Tisna dan Kang Utun buat, ayo udunan beli
tanah untuk kita rawat sebagai hutan kota sekaligus
lahan konser musik dan youth center di mana
segala ada di sini, ada gerai makanan khas,
perpustakaan, toko buku, pusat riset dan
dokumentasi kepemudaan, pusat musik, skate park,
sarana olah raga, pokoknya tempat yang asyik bagi
kawula muda untuk gaul! Tempat yang dikelola oleh
kaum muda, untuk kepentingan kaum muda, untuk
kepentingan semua pihak. Apakah Saparuan
mungkin? Tak ada yang tak mungkin! Kuncinya
adalah cinta karena dengan cinta kita jadi
konsisten. Bukankah dengan cinta yang besar
kepada Allah, nabi Musa aja bisa membelah laut?
Mari cintai kaum muda dan Kota Bandung, maka
kita bisa mewujudkannya! (h. 194-195)
Ageman # 10, Adithia Argasasmita, terpidana kasus
tragedi konser maut yang digelar di Asia Afrika
Culture Centre (AACC) Februari 2008 silam,
dibebaskan dari Rumah Tahanan (Rutan) Klas I
Bandung, sekitar pukul 15.00WIB, Senin 18 Agustus
2009 yang seharusnya baru dapat menghirup udara
segar tertanggal 10 Juni 2010 karena telah masa
pidana selama 2 tahun 6 bulan.
Adit mengaku bersyukur atas pembebasanya.
Rencananya, akan tetap menjalani profesi dibidang
Event Organizer (E.O) untuk konser Underground.
“Tapi tentunya saya mengambil hikmah dari ini
semua agar kedepannya ketika memfasilitasi
sebuah event, harus berhati-hati,” ujarnya (h. 203)
Upaya mengenang 2 Tahun Insiden AACC digelar
acara Melawan Lupa di Common Room pada tanggal
17 Februari 2010Insiden ini merupakan malam yang
tidak akan dilupakan oleh sebagian orang, sehingga
dirasa penting untuk berefleksi dan mengenang
kejadiannya, selain mengenang momen
kebersamaan, serta mengambil hikmah dari
kejadian itu. Melawan Lupa, adalah momen krusial
dan tagline penting dalam peringatan tahun ini.
Berbeda dengan acara peringatan tahun lalu, agenda
yang dilakukan tahun ini adalah mengaji dan berdoa
untuk para korban dengan cara yang lebih
sederhana. Malam peringatan pun dihadiri keluarga
korban sebagai bentuk penghargaan kepada para
korban yang telah menjadi bagian dari komunitas
anak muda yang terlibat di dalam insiden ini.
Satu yang perlu disadari bahwa, insiden AACC
bukanlah kesalahan satu pihak, namun kesalahan
berbagai elemen terkait. Entah itu mulai dari pihak
penyelenggara acara, penonton, pengelola gedung,
polisi, pemerintah, media massa, hingga
masyarakat. Banyak pihak yang sebetulnya
berperan dalam insiden ini. Momen penting malam
peringatan dua tahun tersebut merupakan
pembelajaran untuk berbuat lebih nyata, mengambil
hikmahnya, bersatu padu, dan menjadikan hari esok
lebih baik dari hari ini. Dan kejadian malam
tersebut, merupakan pelajaran untuk masa depan
yang lebih baik, jika kita mampu menyikapinya
dengan bijak. Selesai berdoa, acara ditutup dengan
makan tumpeng bersama dan melanjutkannya
dengan menabur bunga di pelataran Gedung AACC.
(h. 204)
Inilah model keberagamaan komunitas metal
Ujungberung Rebels. [Ibn Ghifarie]
Judul : MEMOAR MELAWAN LUPA, Catatan-catatan
tentang Insiden Sabtu Kelabu Tragedi AACC 9
Februari 2008 dan Ujungberung Rebels
Penulis : Kimung
Penyunting I : Yusandi
Penyunting II : Addy Gembel
Desain sampul : Arief Budiman
Tata letak : Dani popup
Cetakan I, Februari 2011
Penerbit : Minor Books
ISBN : 979-602-25-5892-6

Track list album resolution


Disc I
01. Straight For The Sun
02. Desolation
03. Ghost Walking
04. Guilty
05. The Undertow
06. The Number Six
07. Barbarosa (Instrumental)
08. Invictus
09. Cheated
10. Insurrection
11. Terminally Unique
12. To The End
13. Visitation
14. King Me
Disc II (Wrath – Tour 2009-2010) (Limited Pre-
Order Bonus)
01. The Passing
02. In Your Words
03. Set To Fail
04. Walk With Me In Hell
05. Hour Glass
06. Now You’ve Got Something To Die For
07. Ruin
08. As The Palaces Burn
09. Blacken The Cursed Sun
10. Laid To Rest
11. Redneck
12. Black Label

Lamb of god biografy

Akar dari Lamb Of God yang ditanam pada tahun
1990 ketika Mark Morton, Chris Adler dan John
Campbell adalah pasangan lantai di Virginia
Commonwealth University . Trio mulai bermain di
rumah Adler dalam kondisi cuaca dingin
Richmond. “Ada panas ada di rumah,” kenang
Campbell. “Kami akan membekukan keledai kita
mati, benar-benar mabuk dan berkeliaran di
pemanas minyak tanah mencoba menulis lagu
metal Minyak Tanah dan asap. Bir Black Label
yang jelas apa yang memicu hari-hari awal
kami.”
Setelah lulus, Morton pindah ke Chicago untuk
mengejar gelar master, tapi band terus. Sebuah
gitaris baru, Abe Spear, digantikan Morton sebagai
band instrumental pensiunan suara dan
ditambahkan Blythe pada vokal.
Kuartet, yang dikenal kemudian sebagai Burn the
Priest, menjadi fixture di adegan Richmond erat-
merajut musik. Untuk bersaing dengan tingkat-
tinggi musisi ditampilkan oleh sezaman mereka,
band ini mengadopsi jadwal praktek kaku. “Untuk
hari ini, kita berlatih lima hari seminggu karena
kebutuhan,” kata Campbell. “The band di
Richmond datar dapat bermain lebih bagus dr
Anda dan jika Anda tidak berlatih, mereka akan
membuat Anda dari panggung Band seperti
pencari nafkah dan Sliang Laos – dua lokal
matematika-metal band -. Bisa bermain gila
catatan musik rumit yang sempurna Mereka
menginspirasi kami. untuk meningkatkan bar
musik dan mengajari kami etos kerja yang kami
butuhkan untuk menjadi sukses. “
Band ini bermain-main Virginia ketika Morton
pindah kembali dari Chicago dan kembali
bergabung dengan grup. Segera setelah itu, Burn
the Priest merilis album self-titled penuh
pada Legion Records . Abe meninggalkan segera
setelah itu, yang membuka tempat untuk gitaris,
dan saudara untuk Chris – Willie Adler.
Setahun setelah Adler kedua bergabung, Burn
Imam berubah nama menjadi Anak Domba Allah
dan menandatangani kontrak rekaman dengan
Prosthetic Records. independen band-debut, New
American Injil, dirilis pada tahun 2000. “Album ini
adalah semua tentang menciptakan lanskap musik
ritmis dan pukulan dengan riff setelah riff,” jelas
Morton. Drummer Adler catatan: ÒThis adalah
catatan klasik. Kami memiliki semua elemen
berkumpul untuk membuat salah satu yang
terberat, namun catatan menular dari karir kita.
Sulit mengandung kita -. Kami bahkan tidak
mengerti pada saat apa yang kita telah
menciptakan ”
Dua tahun tur ekstensif untuk mendukung album
mengangkat profil Domba Allah sebelum band ini
merilis kritis diakui, As The Palace Burn (2003).
ATPB catatan memenangkan penghargaan tahun
di majalah terkenal seperti Revolver dan Metal
Hammer sementara mengumpulkan tekan utama
di Rolling Stone dan Entertainment Weekly.
Band menghantam jalan lagi dan mulai headlining
wisata di seluruh dunia. Pada musim gugur 2003
Anak Domba Allah adalah co-utamanya pada
pertama kalinya MTV Headbanger’s Ball Tour
yang ditinggikan Anak Domba Allah di luar bawah
tanah. Band ini kemudian dilepaskan Teror dan
keangkuhan, sebuah DVD yang menampilkan
pertunjukan live awal, video untuk “Merusak” dan
“Black Label” dan cuplikan behind-the-scene
menyoroti etos kerja, kerendahan hati dan rasa
humor dari salah satu yang paling dihormati dan
berpengaruh band sekitar hari ini. DVD terbukti
sukses secara komersial karena memasuki
Billboard Musik DVD Charts di # 32.
Secara bertahap, Anak Domba Allah ketekunan
terbayar. 2003 disc mereka, Seperti The Palace
Burn diterima mereka tingkatan baru rasa hormat
dan kagum, tapi itu virulen label tahun 2004 debut
utama (Epic Records) Abu dari Wake yang
mengubah band menjadi pesaing benar untuk
takhta logam. Pada pertengahan tahun 2006,
mencatat telah terjual lebih dari 275.000
eksemplar. majalah Revolver terpilih itu album
tahun, sebuah jajak pendapat pembaca Guitar
World itu dianggap album metal terbaik dan
dianugerahi band “pemain yang paling berharga,”
“Shredders terbaik” dan “riff terbaik.” Video untuk
“Sekarang You’ve Got Sesuatu untuk Mati Untuk”
“video terbaik” yang diperoleh dari kedua
Headbanger’s Ball dan Revolver. Dan DVD
chronicling tur dan hidup di jalan dengan band,
Killadelphia, telah pergi emas. Anak Domba Allah
didukung Abu dengan tur tanpa henti lagi,
sekarang kebanyakan arena bermain dan festival,
dimulai dengan menjalankan headlining pada
Tahap Kedua di Ozzfest 2004, dan berakhir dengan
headlining Suara Amerika Utara Festival
Undergroud pada tahun 2005.
Kecemasan politik yang memicu lirik di Sebagai
The Palace Burn terus berlanjut di Abu dari Wake.
Namun, Blythe mengakui bahwa rencananya untuk
menulis lagu tentang tanggung jawab pribadi
cepat berubah. “Mark dan saya menulis sebagian
besar lirik bersama-sama, dan pada awal album
ini kita sepakat bahwa kita ingin berkonsentrasi
pada internal bukan politik eksternal,” ia
menjelaskan. “Tapi ketika kami sampai ke
dalamnya, mengingat kondisi dunia saat ini, kami
merasa berkewajiban sebagai seniman
bertanggung jawab untuk memberikan komentar
sosial yang akurat, dan itu berarti menulis
beberapa dakwaan terhadap kekuasaan yang
ada.”
Mencampur panggilan untuk lengan dengan
penghinaan mencibir Abu saldo dari Wake. “Pada
akhirnya, saya pikir album ini lebih kuat karena
kita menunjukkan hubungan antara politik internal
dan eksternal, bukan hanya berfokus pada satu
atau yang lain,” kata Blythe. “Lagu-lagu ini adalah
kenyataan cek untuk semua orang karena mereka
rel terhadap pemerintah salah-kepala dan
terhadap orang-orang apatis yang mengabaikan
pemerintah dan memungkinkan untuk ada.”
Setelah Abu dari Wake, mereka telah dipuji
sebagai salah satu pemimpin gerakan new metal
Amerika, dan sementara mereka tersanjung akan
dianggap sebagai bagian dari sesuatu yang begitu
berpengaruh, kali ini mereka ingin berdiri sendiri.
“Saya percaya bahwa penting bagi kita untuk
menciptakan warisan bagi band ini, dan aku tidak
ingin warisan yang berada dalam hubungan
dengan orang lain,” kata Adler. “Dalam pikiran
kita, kita memotong di atas dan kita merasa
seperti kita mengeluarkan banyak lagi.”
Menjelang akhir tahun 2005, band ini berhenti tur
semua dan pulang ke Richmond, VA, untuk mulai
menulis bab berikutnya. Sebuah 8 bulan intens
proses penulisan diikuti. “Kami cukup banyak
membunuh diri kita sendiri bekerja di atasnya
lima sampai enam hari seminggu selama enam
sampai delapan jam sehari,” kata drummer Chris
Adler. “Itu penting untuk mendorong diri ke
wilayah nyaman sebagai pemain. Banyak kali
salah satu dari kita akan berkata, ‘Saya tidak
yakin apakah saya bisa bermain itu.” Respon
tipikal adalah, ‘Well, kau punya satu tahun untuk
mengetahuinya. ” Kami mendorong diri untuk
langkah itu dan membuang banyak bahan yang
layak karena kami bersikeras hanya yang terbaik.
” Salah satu alasan Anak Domba Allah mendorong
begitu keras adalah karena mereka ingin
menciptakan sesuatu yang tidak dapat
diklasifikasikan, dikategorikan atau terpinggirkan.
22 Agustus 2006 membawa Sakramen, contoh
menakjubkan tentang bagaimana beragam,
mengartikulasikan dan logam pummeling dapat.
Ini adalah catatan yang menekankan sejauh mana
anggota band telah datang sebagai pemain,
penulis dan orang-orang dan berdiri sebagai bukti
sejati kemenangan atas kesulitan. Dengan
Sakramen, Anak Domba Allah telah menyalakan
api dengan pengupasan daging untuk tulang dan
memeriksa pembunuhan itu. Lagu-lagu yang
suram dan gelap, namun bahan-bahan kunci dari
sebuah perjalanan yang sebagai terengah-engah,
menggembirakan dan menakutkan seperti
overdosis.
Gitaris dan co-penulis lirik Mark Morton catatan
band memilih nama Sakramen berdasarkan
referensi liris tertentu serta perspektif simbolis
yang lebih umum. “Kami menyukainya karena itu
menggunakan gagasan Sakramen agama
tradisional, yang merupakan sesuatu yang Anda
lakukan sebagai ritual untuk sampai ke tingkat
yang berbeda iman Anda,” katanya. “Juga, saya
pikir itu adalah simbolik dalam hal kita
memadamkan rekor lain dan sampai ke tahap
berikutnya dari perkembangan musik kita.” “Ini
jelas merupakan suatu catatan pribadi dan ini
adalah hal yang paling gelap yang pernah kita
lakukan,” tambah Blythe. “Ini berasal dari banyak
depresi dan pandangan dunia yang kacau Dalam
beberapa tahun terakhir ini aku akan melalui
banyak aneh, sialan buruk..”
Perbedaan terbesar antara Sakramen dan Abu dari
Wake adalah konten liris. Di masa lalu, Anak
Domba Allah telah lyrically dimotivasi oleh
keserakahan, kemunafikan dan kekacauan politik
dan politisi. Kali ini band berubah dalam untuk
mengungkapkan sumber yang lebih besar putus
asa dan frustrasi.
Lagu-lagu seperti ‘Menyedihkan’ dan ‘Menurun’
misalnya adalah tentang pusaran kecanduan dan
alkohol, ‘Walk With Me Dalam neraka’ Alamat
perusakan kodependensi dan ‘Matahari
Terkutuklah Blacken’ menghadapi depresi bunuh
diri.
“Lyrics begitu intens bagi saya, ketika saya
sedang merekam, rasanya seperti sakit
pernapasan bukannya menghirup udara,” kata
Blythe. “Jadi, ketika hal itu dilakukan, saya tidak
bisa mendengarkan merekam selama dua bulan.
Ini hanya mengambil begitu banyak dari saya
untuk mendapatkan semua hal ini keluar, aku
tidak ingin menyentuhnya langsung.”
Selain menjadi luar biasa berat, Sakramen adalah
ekspresi tulus dari kekacauan yang telah jatuh
melalui beberapa tahun terakhir dari keberadaan
band. Dalam era stagnan, logam dibikin, Anak
Domba Allah adalah terburu-buru mengerikan
kejujuran, sebuah deklarasi yang tidak peduli apa
yang orang lain sedang diputar, Anak Domba Allah
akan selalu mengikuti hati mereka sendiri.
“Band ini dimulai karena tidak ada orang di luar
sana sedang membuat musik yang kita ingin
dengar,” kata penyanyi Randy Blythe. “Jadi, kami
memutuskan untuk membuat musik itu, dan dari
titik yang baru saja merupakan kelanjutan dari
filsafat Kami. Tidak pernah berubah apa pun yang
kita lakukan untuk menarik bagi siapa pun,
menenangkan siapa pun atau mencari apapun
persetujuan dari orang lain selain diri kita
sendiri."
Sumber : http://foto.terbaru2010.com/biodata-
lamb-of-god.html

Lirik lagu lamb of god - ghost walking

1, 2, 3
Do you remember when word was bond, a fleeting
promise in the light of the dawn.
Barren December under a falling sky, the end of
days and a reason to die.
Obliteration never looked so divine.
Holding your breath for the moment in time
You lived through hell, now you're trying to die
The skin is healed but you're bleeding inside
Shots fired just to numb the pain
There's no one left to save
Night blind on the shining path
Ghost walking in the aftermath
Hypnotized, 60 cycle hum
The broken cadence of a distant drum
21 to 1 I'm liking the odds
A blood junkie with a lightning rod
A dirty rig and a heavenly nod
And still you wind up nowhere
Obliteration never looked so divine
Holding your breath for the moment in time
You lived through hell, now you're trying to die
The skin is healed but you're bleeding inside
Shots fired just to numb the pain
There's no one left to save
There's no one left to save
There's no one left to save
Now
You chase the dragon but it follows you home
Now
You lost the fever dreams and broken hope
Desolation never looked so divine
Promise yourself for the very last time
You lived through hell, now you're trying to die
The skin is healed but you're bleeding inside
Shots fired just to numb the pain
There's no one left to save
There's no one left to save
Ohhhh there's no one left
A fever dream
There's no one left to save
Shots forever end the pain
There's no one left to save